Rupiah Melemah ke Rp17.729 Bayangi Pasar Obligasi Domestik

Rupiah Melemah ke Rp17.729 Bayangi Pasar Obligasi Domestik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terus melemah mulai membayangi prospek kinerja pasar obligasi domestik pada Selasa (19/5/2026).

Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Investasi, mata uang rupiah merosot sebesar 0,35 persen secara harian ke posisi Rp17.729 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (19/5/2026). Penurunan ini melanjutkan tren negatif setelah pada Senin (18/5) kurs rupiah pasar spot juga melemah sebesar Rp71 atau 0,40 persen menjadi Rp17.668 per dolar Amerika Serikat.

Senior Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Syuhada Arief menjelaskan bahwa depresiasi rupiah dipicu oleh ketegangan geopolitik, pandangan investor pada kebijakan ekonomi nasional, serta tingginya permintaan dolar musiman pada kuartal kedua. Guna meredam volatilitas, Bank Indonesia mengintervensi pasar valuta asing dan menaikkan imbal hasil SRBI, serta mendongkrak Repo Rate menjadi 5,1 persen.

Langkah penyesuaian yield SRBI 12 bulan dari kisaran 4,9 persen di awal tahun menjadi 6,5 persen pada awal Mei berhasil menarik dana asing dengan catatan net inflow Rp78 triliun per April 2026. Namun, strategi stabilisasi ini menguras cadangan devisa negara dari US$156,47 miliar pada akhir Desember 2025 menjadi US$146,20 miliar per akhir April 2026, sehingga mempersempit ruang penurunan suku bunga.

“Tidak bisa dipungkiri kondisi saat ini terlihat sulit bagi outlook pasar obligasi sehingga wajar dalam kondisi saat ini pelaku pasar memperhitungkan skenario terburuk bagi outlook pasar obligasi, seperti risiko harga minyak tinggi berkepanjangan dan risiko naiknya suku bunga,” jelas Syuhada.

Menurut Syuhada, situasi sekarang menunjukkan sisi positif karena pasar telah mengantisipasi risiko tersebut, terlihat dari yield SBN 10 tahun yang relatif terjaga pada level tertinggi 6,9 persen selama periode Maret hingga April. Di sisi lain, potensi pemulihan situasi di Selat Hormuz diperkirakan dapat membuka kembali peluang pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat sekaligus menyokong sentimen investasi global bagi pasar obligasi.

Artikel terkait

Rekomendasi