Rupiah Tembus Rp 18.000, Pasar Saham RI Anjlok ke Level Terendah

Rupiah Tembus Rp 18.000, Pasar Saham RI Anjlok ke Level Terendah

Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dan mencetak rekor terendah baru pada Kamis, memicu kemerosotan pasar saham Indonesia ke level terendah dalam lebih dari lima tahun akibat melemahnya kepercayaan investor asing, sebagaimana dilansir dari Investasi.

Kemerosotan aset domestik ditunjukkan oleh penyusutan kepemilikan asing pada obligasi pemerintah Indonesia yang tersisa 12,62% per 2 Juni, sebuah rekor terendah sejak November 2006. Angka keterlibatan investor asing tersebut mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2019 yang sempat mencapai hampir 40%.

"Kepemilikan asing di pasar saham Indonesia juga terus menyusut hingga mencapai level terendah dalam beberapa tahun terakhir,โ€ papar Ari Jahja, Kepala Riset Indonesia di Macquarie Capital.

Pelemahan mata uang rupiah tercatat telah mencapai sekitar 7,5% sepanjang tahun ini, sebuah catatan yang menempatkannya sebagai mata uang dengan kinerja paling buruk di kawasan Asia. Tekanan jual yang tinggi pada mata uang lokal pada akhirnya memaksa Bank Indonesia untuk melakukan intervensi secara langsung di pasar valuta asing.

Langkah intervensi guna menopang nilai tukar tersebut berdampak pada penurunan cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 2 miliar pada April menjadi US$ 146,2 miliar. Jumlah cadangan devisa saat ini berada di level terendah dalam kurun waktu hampir dua tahun terakhir.

Kondisi penurunan stabilitas keuangan nasional kini mulai memicu perhatian dari lembaga pemeringkat internasional. Fitch Ratings dalam laporan bulan Maret lalu menyatakan bahwa penurunan tajam cadangan devisa akibat arus modal keluar, penurunan kepercayaan pasar, atau memburuknya tata kelola bisa memicu aksi pemeringkatan negatif terhadap Indonesia.

Situasi makroekonomi ini dinilai membuat perhatian para pelaku pasar beralih pada aspek risiko kredit negara.

โ€œMeski pertumbuhan ekonomi masih relatif kuat, muncul kekhawatiran terkait disiplin fiskal dan meningkatnya komitmen belanja pemerintah. Spekulasi pasar mengenai potensi peninjauan peringkat kredit turut menambah sentimen kehati-hatian,โ€ ujar Andrey Wijaya, Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia.

Rentetan sentimen negatif mulai dari pelemahan rupiah, penurunan kepemilikan asing di pasar keuangan, hingga menyusutnya cadangan devisa menjadi indikator utama bahwa pasar sedang menguji kemampuan pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian global.

Artikel terkait

Rekomendasi