Rupiah Melemah ke Rp17.600, Pernyataan Presiden Prabowo Menuai Kritik

Rupiah Melemah ke Rp17.600, Pernyataan Presiden Prabowo Menuai Kritik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah hingga menyentuh level Rp17.600 pada Senin, 18 Mei 2026, akibat tekanan ekonomi global yang memicu gelombang kritik terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai dampak fluktuasi mata uang di desa.

Fluktuasi yang dilansir dari Suara ini mencatat kurs tengah berada di kisaran Rp17.501 hingga Rp17.622 per dolar AS pada pasar spot. Angka tersebut menjadi level terendah mata uang domestik sejak krisis moneter periode 1997-1998 karena dipengaruhi tingginya suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik global.

Pelemahan nilai tukar ini memicu sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan tanggapan saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada Sabtu, 16 Mei 2026.

"Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok, ya kan?" ujar Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia.

Kepala Negara menilai situasi pangan dan energi nasional masih berada dalam kondisi aman dibandingkan negara lain. Menurutnya, pergerakan mata uang asing tidak akan memberikan dampak secara langsung bagi kehidupan masyarakat pedesaan yang menggunakan rupiah untuk transaksi harian.

Pernyataan tersebut langsung memicu kontroversi dari para ekonom, seperti Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas dan peneliti LPEM FEB UI. Kritik muncul karena komoditas strategis seperti gandum, pupuk, suku cadang pertanian, hingga 90 persen kedelai di Indonesia masih dipasok melalui impor menggunakan dolar AS.

Lonjakan biaya impor akibat melemahnya rupiah diproyeksikan mendorong inflasi dan menaikkan harga barang konsumsi di tingkat desa. Tekanan ini berpotensi menaikkan harga komoditas pokok seperti tahu, tempe, minyak goreng, dan mie instan, serta menggerus pendapatan para petani akibat kenaikan harga input produksi.

Meskipun demikian, pendukung pemerintah menilai pernyataan tersebut sebagai retorika populis untuk menenangkan masyarakat bawah di tengah fokus menjaga stabilitas domestik. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia memastikan cadangan devisa tetap aman, sembari terus menyalurkan subsidi pupuk serta program stabilisasi harga pangan.

Artikel terkait

Rekomendasi