Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka merosot ke posisi Rp17.541,5 pada perdagangan Rabu (13/5/2026) pagi. Depresiasi ini terjadi sesaat setelah lembaga indeks global MSCI Inc. mengumumkan hasil evaluasi ulang portofolio atau rebalancing untuk periode Mei 2026 di tengah penguatan indeks dolar AS.
Dilansir dari Market, mata uang Garuda mencatatkan penurunan sebesar 13 poin atau setara 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada saat yang sama, indeks dolar AS justru mengalami apresiasi tipis 0,01 persen menuju level 98,30 yang memicu pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Data pasar menunjukkan yen Jepang terdepresiasi 0,05 persen dan won Korea melemah 0,29 persen. Kondisi serupa menimpa peso Filipina serta rupee India yang masing-masing terkoreksi 0,03 persen dan 0,34 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.
Tekanan terhadap rupiah yang menembus level psikologis baru ini dipicu oleh akumulasi faktor eksternal dan kondisi pasar domestik. Research and Development ICDX, Tiffani Safinia menjelaskan bahwa keperkasaan dolar AS tetap didukung oleh ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve yang bertahan lebih lama.
"Ada peningkatan permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia. Pasar juga menanti arah data inflasi AS yang akan menentukan kebijakan moneter The Fed ke depan," ujar Tiffani Safinia, Research and Development ICDX.
Tiffani menambahkan bahwa isu transparansi dan struktur pasar modal yang disoroti MSCI turut meningkatkan kehati-hatian investor global. Beban fiskal pemerintah terkait subsidi energi dan siklus puncak pembayaran utang luar negeri korporasi pada April–Mei menambah berat posisi rupiah.
"Namun, pelemahan ini memberi sisi positif terbatas bagi eksportir karena meningkatkan daya saing harga produk di pasar internasional," kata Tiffani Safinia, Research and Development ICDX.
Analisis dari BRI Danareksa mengungkapkan bahwa absennya saham baru Indonesia dalam MSCI Global Standard Index menjadi sentimen negatif bagi pasar modal. Sebaliknya, MSCI menghapus enam emiten besar dari indeks standar dan melakukan penyesuaian pada kategori kapitalisasi kecil.
| Kategori Indeks | Status | Nama Emiten (Ticker) |
|---|---|---|
| MSCI Global Standard Index | Dihapus | AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT |
| MSCI Global Standard Index | Ditambah | Nihil |
| MSCI Small Cap Index | Ditambah | AMRT |
| MSCI Small Cap Index | Dihapus | ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, TAPG |
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan domestik mengenai royalti tambang yang dipastikan tetap berlaku mulai Juni 2026. Di pasar saham, IHSG ditutup melemah 0,92 persen ke level 6.905,5 pada perdagangan sebelumnya dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp659 miliar.
"Sentimen pasar sempat membaik setelah penundaan rencana kenaikan tarif royalti tambang, namun kembali tertekan setelah pemerintah memastikan penyesuaian royalti tetap berlaku mulai Juni 2026," ujar Tiffani Safinia, Research and Development ICDX.