Nilai tukar rupiah di pasar spot mencetak rekor pelemahan baru setelah ditutup merosot ke level Rp17.846 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (28/5/2026).
Mata uang Garuda tersebut mencatat penurunan sebesar 0,25 persen dibandingkan dengan posisi pada hari sebelumnya yang berada di level Rp17.801 per dolar Amerika Serikat, sebagaimana dilansir dari Investasi.
Kombinasi tekanan dari faktor eksternal dan kondisi domestik dinilai menjadi penyebab utama yang membebani pergerakan nilai tukar mata uang nasional saat ini.
"Rupiah ditutup terhadap dolar AS yang menguat dan sentimen risk off global menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian," ujar Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.
Kondisi di dalam negeri juga dinilai belum memberikan sentimen positif yang cukup kuat untuk mendorong penguatan nilai tukar.
"Masih yang sama, defisit neraca transaksi berjalan, kondisi APBN, ekspektasi kenaikan suku bunga BI, sell off di ekuitas domestik yang diperkirakan akan kembali berlanjut besok," kata Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.
Untuk perdagangan selanjutnya, para pelaku pasar diproyeksikan masih terus memantau situasi dan eskalasi konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
Selain faktor geopolitik, perhatian investor global juga tertuju pada rilis data revisi kedua produk domestik bruto serta data inflasi Personal Consumption Expenditures Amerika Serikat.
"Rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.900 per dolar AS pada perdagangan besok," ujar Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.