Rupiah Melemah ke Rp17.394 di Tengah Sentimen Global dan Domestik

Rupiah Melemah ke Rp17.394 di Tengah Sentimen Global dan Domestik

Nilai tukar rupiah tercatat mengalami tekanan besar hingga menyentuh level Rp17.394 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan spot Senin (4/5/2026). Penurunan sebesar 0,33 persen ini menjadi salah satu posisi terlemah mata uang Garuda di tengah penantian pelaku pasar terhadap rilis data inflasi dan perdagangan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan rupiah berbanding terbalik dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang justru menunjukkan penguatan tipis. Kurs Jisdor tercatat menguat 0,05 persen ke posisi Rp17.368 per dolar AS pada hari yang sama.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa kondisi ekonomi di dalam negeri memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan mata uang. Menurut pantauannya, sentimen negatif muncul setelah sejumlah data ekonomi nasional tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.

"rupiah melemah cukup signifikan setelah data-data ekonomi domestik yang mengecewakan." ujar Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.

Di sisi lain, terdapat sentimen global yang berpotensi memberikan ruang penguatan bagi rupiah. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini meluncurkan inisiatif "Proyek Kebebasan" untuk mengawal kapal-kapal asing di kawasan konflik Selat Hormuz guna meredakan gangguan pasokan global.

"Rupiah berpotensi menguat merespon pernyataan Trump yang akan ‘membebaskan’ kapal-kapal di Selat Hormuz meredakan kekhawatiran gangguan pasokan global, sehingga menekan harga minyak," ucap Lukman Leong kepada ANTARA.

Intervensi Bank of Japan (BoJ) terhadap yen pada Jumat (1/5/2026) juga sempat membuat indeks dolar AS melorot. Namun, Lukman memprediksi apresiasi rupiah akan tetap terbatas karena investor masih mencermati angka inflasi tahunan Indonesia yang diperkirakan turun ke level 3,0 persen.

"BoJ (Bank of Japan) mengintervensi untuk menguatkan yen pada hari Jumat (1/5), menyebabkan indeks dolar AS melorot," ungkap Lukman Leong.

Narasi mengenai kondisi ekonomi nasional menunjukkan adanya harapan pada surplus perdagangan yang diperkirakan mencapai 4 miliar dolar AS. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dan internal tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak pada rentang Rp17.250 hingga Rp17.400 per dolar AS.

"Inflasi YoY (year on year) Indonesia diperkirakan akan turun dari 3,48 persen ke 3,0 persen, serta surplus diperkirakan berada di 4 miliar dolar AS," kata Lukman Leong.

Artikel terkait

Rekomendasi