Rupiah Melemah Memicu Minat Tabungan Dollar Amerika Serikat

Rupiah Melemah Memicu Minat Tabungan Dollar Amerika Serikat

Tren penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat memicu keinginan masyarakat untuk menyimpan dana dalam mata uang asing pada Sabtu (16/5/2026). Perencana keuangan mengingatkan bahwa strategi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan riil rumah tangga, dilansir dari Money.

Pendiri Finante.id, Rista Zwestika menjelaskan bahwa kepemilikan simpanan dalam mata uang asing efektif untuk kelompok masyarakat yang memiliki rencana spesifik jangka panjang.

"Terutama untuk masyarakat yang memiliki rencana pendidikan luar negeri atau kebutuhan perjalanan internasional," kata Rista Zwestika, Perencana Keuangan sekaligus Founder Finante.id.

Kebutuhan operasional lain yang membutuhkan mata uang asing meliputi sektor perdagangan internasional dan penempatan dana pada instrumen global.

"Namun, bukan berarti semua orang harus memindahkan seluruh tabungannya ke dollar AS," ujar Rista Zwestika.

Masyarakat disarankan untuk tetap memprioritaskan pemenuhan dana darurat serta biaya operasional harian dalam mata uang domestik sebelum beralih ke valuta asing.

"Tentukan tujuan memiliki tabungan dollar, apakah untuk proteksi nilai aset, traveling, pendidikan, atau investasi," terang Rista Zwestika.

Pembentukan pos aset asing ini dapat dieksekusi melalui pemanfaatan rekening valas maupun deposito berjangka secara berkala.

"Prinsipnya, tabungan dollar lebih cocok dijadikan alat diversifikasi dan persiapan kebutuhan masa depan, bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan dari selisih kurs," ucap Rista Zwestika.

Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tidak bersikap impulsif dalam merespons fluktuasi pergerakan nilai tukar yang sedang terjadi.

"Fokus utama tetap pada tujuan keuangan dan kebutuhan masing-masing," tutur Rista Zwestika.

Kondisi penguatan mata uang asing dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai momentum diversifikasi apabila kondisi keuangan internal telah stabil.

"Termasuk mempertimbangkan instrumen berbasis dollar AS secara bertahap," imbuh Rista Zwestika.

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan performa negatif pada akhir pekan ini.

Mata uang Indonesia tercatat mengalami depresiasi sebesar 0,39 persen sehingga berada pada posisi Rp 17.597 per dollar AS pada penutupan perdagangan Jumat (15/5/2026).

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa kemunduran nilai tukar ini dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global serta kebijakan moneter internasional.

"Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Artikel terkait

Rekomendasi