Rupiah Melemah hingga Tembus Rp17.949 per Dolar AS pada 28 Mei 2026

Rupiah Melemah hingga Tembus Rp17.949 per Dolar AS pada 28 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah signifikan hingga sempat menyentuh level Rp17.949 pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026.

Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang mengganggu pasar keuangan global.

Berdasarkan data Investing dan Google Finance, dolar AS bergerak dalam rentang Rp17.772 hingga Rp17.995, sementara data Bloomberg mencatat rupiah sempat berada di level Rp17.905 sebelum bergerak ke Rp17.879.

Akibat depresiasi yang merosot hingga 7,18% sejak awal tahun ini, sejumlah bank internasional seperti Bank HSBC Indonesia dan Bank DBS Indonesia mulai menjual dolar AS di atas Rp17.900 sejak 26 Mei 2026.

Kondisi pasar ini diperparah oleh proyeksi EBC Financial Group yang memperkirakan rupiah dapat menyentuh level Rp18.000 pada akhir tahun apabila penguatan dolar AS terus berlanjut.

Ekonom asal Brasil yang memimpin firma konsultan APCE, André Perfeito menyatakan bahwa fluktuasi mata uang global saat ini memiliki dampak yang luas akibat pergerakan harga komoditas utama.

"mempengaruhi semua orang… fluktuasi mata uang dapat memperkuat atau meredam dampak tersebut", kata André Perfeito, ekonom asal Brasil yang memimpin firma konsultan APCE.

Faktor eksternal dari ketegangan geopolitik tersebut turut memicu kekhawatiran atas gangguan distribusi energi di Selat Hormuz serta ekspektasi suku bunga tinggi dari Bank Sentral AS.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik merupakan akumulasi dari gejolak pasar global dan kebutuhan internal.

"Tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Komoditas dan Mata Uang.

Kebutuhan korporasi domestik akan valuta asing untuk keperluan impor minyak, pembayaran dividen, serta pelunasan utang jatuh tempo ikut memperberat posisi nilai tukar rupiah.

"Kondisi tersebut membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia," ucap Ibrahim Assuaibi, Pengamat Komoditas dan Mata Uang.

Bank Indonesia telah berulang kali melakukan intervensi dengan menjual cadangan dolar AS dan menaikkan suku bunga untuk menahan kejatuhan mata uang rupiah di pasar valuta asing.

"BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin, tetapi tekanan pasar memang masih cukup besar," ujarnya Ibrahim Assuaibi, Pengamat Komoditas dan Mata Uang.

Selain Indonesia, negara pengimpor energi lain seperti India, Filipina, Thailand, dan Mesir juga menghadapi tekanan serupa yang memicu kenaikan biaya utang luar negeri dan inflasi barang impor.

Ekonom di perusahaan investasi global Inggris, AllianceBernstein mengonfirmasi bahwa posisi mata uang safe haven berpotensi melonggarkan tekanan jika terjadi koreksi nilai.

"Dolar yang lebih lemah biasanya berarti kondisi moneter yang lebih longgar, ruang lebih besar untuk pemotongan suku bunga di negara berkembang, dan penurunan penghindaran risiko—semuanya menguntungkan pasar negara berkembang," kata ekonom di perusahaan investasi global Inggris, AllianceBernstein.

Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global bisa melambat hingga ke level 2,0% dengan tingkat inflasi melebihi 6% jika konflik bersenjata terus berlanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi