Rupiah Melemah ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah Melampaui Rp17.600

Rupiah Melemah ke Level Terburuk Sepanjang Sejarah Melampaui Rp17.600

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah tajam hingga menembus level di atas Rp17.600 pada akhir pekan lalu, yang mencerminkan kombinasi tekanan pasar global serta tingginya premi risiko perekonomian domestik.

Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari kumparan, mata uang rupiah ditutup merosot 67,50 poin atau 0,39 persen ke posisi Rp17.596 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (15/5). Sementara itu, data cnnindonesia mencatat pergerakan rupiah sempat menyentuh level Rp17.614 per dolar Amerika Serikat pada hari yang sama sebelum berada di posisi Rp17.592 pada Sabtu (16/5).

Pelemahan ekstrem ini menempatkan rupiah pada titik terendah sepanjang sejarah sejak mengalami penurunan tensi dari awal tahun. Indikator ekonomi menunjukkan depresiasi terjadi di tengah pertumbuhan ekonomi nasional kuartal pertama yang sebenarnya tumbuh positif sebesar 5,61 persen.

Menanggapi situasi ini, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, Rizal Taufikurrahman memberikan pandangannya mengenai penyebab utama rontoknya mata uang garuda dari sisi eksternal.

"Pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.600 per dolar AS mencerminkan tekanan global dan domestik yang terjadi bersamaan. Dari eksternal, dolar AS masih sangat kuat akibat suku bunga tinggi global, ketidakpastian geopolitik, dan capital outflow dari negara berkembang," kata Rizal Taufikurrahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Tekanan geopolitik luar negeri tersebut salah satunya dipicu eskalasi konflik melibatkan Iran yang mendorong perpindahan dana investor menuju aset aman. Selain faktor eksternal, kondisi fiskal dalam negeri ikut menyumbang sentimen negatif melalui country risk premium Indonesia yang mencapai 2,46 persen serta rasio pembayaran utang atau Debt Service Ratio yang menyentuh angka 47,67 persen.

Otoritas parlemen melalui Komisi XI DPR RI segera bereaksi dengan meminta Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia memperkuat kebijakan intervensi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward, serta optimalisasi Devisa Hasil Ekspor. Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menilai langkah penstabilan nilai tukar sangat krusial demi mencegah lonjakan harga barang impor yang dapat menggerus daya beli.

Di sisi lain, Misbakhun menilai pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto terkait fluktuasi mata uang asing ini memiliki tujuan tersendiri demi menjaga kondusivitas psikologis masyarakat di daerah.

"Beliau (Prabowo) benar bahwa masyarakat diminta tenang, terutama masyarakat pedesaan, karena memang mereka tidak terkait langsung dengan transaksi yang menggunakan dolar. Yang terpengaruh adalah transaksi-transaksi yang menggunakan impor, orang-orang kaya yang bepergian ke luar negeri," kata Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengimbau publik agar tidak panik secara berlebihan terhadap volatilitas nilai tukar dolar Amerika Serikat saat memberikan pidato peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5). Kebijakan pemerintah dipastikan fokus memperkuat ketahanan pangan dan energi domestik demi menghadapi guncangan ekonomi dunia.

"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke," ujar Prabowo Subianto, Presiden RI.

Presiden juga menepis kekhawatiran dari sejumlah pihak yang menyebut kondisi finansial Indonesia berada dalam ancaman kehancuran total akibat depresiasi mata uang domestik.

"Jadi, saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya enggak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa, ya kan?" kata Prabowo Subianto, Presiden RI.

Pergerakan nilai tukar rupiah selanjutnya diproyeksikan masih akan menghadapi tantangan berat dan berada dalam posisi rentan tertekan menjelang pembukaan pasar finansial pada Senin (18/5).

Artikel terkait

Rekomendasi