Rupiah Melemah Terhadap 10 Mata Uang Asia Sepanjang Tahun 2026

Rupiah Melemah Terhadap 10 Mata Uang Asia Sepanjang Tahun 2026

Nilai tukar rupiah mencatat penurunan signifikan tidak hanya terhadap dolar Amerika Serikat, melainkan juga berhadapan dengan 10 mata uang regional Asia sepanjang tahun berjalan hingga Selasa, 26 Mei 2026.

Berdasarkan data Refinitiv, penurunan terdalam dialami rupiah saat melawan ringgit Malaysia yang merosot sebesar 9,02 persen, sehingga menempatkan kurs ringgit pada rekor terlemah baru di level Rp4.466/MYR dari posisi awal tahun sebesar Rp4.097/MYR.

Penguatan ringgit Malaysia tersebut didorong oleh prospek ekonomi domestik yang solid, masuknya arus investasi asing, serta sentimen positif pada sektor manufaktur dan teknologi yang meningkatkan permintaan mata uang tersebut di pasar regional.

Selain ringgit, rupiah juga melemah sebesar 7,38 persen terhadap dolar Singapura hingga mencapai Rp13.912,81/SGD, mendekati level psikologis Rp14.000/SGD dari posisi awal tahun yang berada pada angka Rp12.957,64/SGD.

Depresiasi nilai tukar rupiah turut menyasar mata uang negara dengan skala ekonomi lebih kecil, seperti riel Kamboja yang menguat 6,52 persen, dong Vietnam sebesar 6,39 persen, dolar Taiwan sebesar 6,34 persen, dan kip Laos sebesar 5,24 persen.

Mata uang Garuda juga tidak mampu mengungguli yen Jepang dengan pelemahan 4,9 persen ke level Rp111,87/JPY, serta baht Thailand sebesar 3,13 persen ke posisi Rp545,71/THB.

Dua mata uang Asia lainnya yang ikut menekan rupiah adalah won Korea Selatan dengan penguatan sebesar 2,21 persen dan peso Filipina yang menguat sebesar 2,03 persen sepanjang tahun berjalan ini.

Data pergerakan grafik menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah dari mata uang regional, terutama ringgit Malaysia dan dolar Singapura, semakin terakselerasi dalam periode April hingga Mei 2026.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelemahan rupiah tidak semata-mata dipicu oleh faktor eksternal global seperti ketidakpastian geopolitik, lonjakan harga minyak, atau tingginya suku bunga The Fed.

Penurunan nilai tukar terhadap sesama mata uang Asia mencerminkan penilaian pasar terhadap risiko internal domestik, termasuk prospek pertumbuhan ekonomi, arus modal keluar, pelebaran defisit fiskal, dan arah kebijakan pemerintah.

Artikel terkait

Rekomendasi