Pasar keuangan domestik saat ini sedang mengalami tekanan hebat yang dipicu oleh kombinasi faktor eksternal serta domestik pada Jumat (5/6/2026), dilansir dari Investasi.
Gejolak ini berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar rupiah, koreksi di pasar saham, hingga memicu kenaikan yield obligasi negara.
Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy menjelaskan bahwa tingginya suku bunga di Amerika Serikat membuat dolar AS menjadi aset yang sangat menarik bagi para pemilik modal.
"Tekanan terutama berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, suku bunga AS yang masih tinggi membuat dolar tetap menarik dan memicu arus dana keluar dari emerging markets," ujar Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia.
Kondisi di dalam negeri juga turut memengaruhi karena investor masih terus mencermati prospek pertumbuhan ekonomi, situasi fiskal, serta berbagai isu terkait tata kelola dan kepercayaan pasar.
Fluktuasi nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan terus bergerak volatil pada semester II-2026 dengan proyeksi kurs berada di kisaran Rp17.200 hingga Rp18.200 per dolar AS.
Menghadapi situasi pasar yang penuh dengan ketidakpastian ini, para investor disarankan untuk segera melakukan diversifikasi pada portofolio investasi mereka.
"Emas cocok sebagai safe haven, dolar AS sebagai lindung nilai terhadap pelemahan rupiah, dan pasar uang memberikan likuiditas sambil menunggu peluang investasi yang lebih menarik," kata Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia.
Bagi investor dengan profil konservatif, alokasi yang direkomendasikan adalah 60% pada pasar uang atau deposito, 30% obligasi, dan 10% emas.
Sementara itu, bagi investor moderat disarankan menempatkan 50% dana di pasar uang, 30% obligasi, 10% saham, dan 10% emas, sedangkan investor agresif dapat memilih komposisi 30% saham, 30% obligasi, 30% pasar uang, dan 10% emas.
Meskipun demikian, para pelaku pasar diimbau untuk tidak terburu-buru menempatkan dana mereka dalam jumlah besar secara sekaligus.
"Investor sebaiknya tetap memiliki likuiditas yang cukup, tetapi mulai melakukan akumulasi bertahap pada aset yang valuasinya sudah menarik. Hindari masuk sekaligus dalam satu waktu," ujar Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia.
Langkah antisipasi ini penting dilakukan guna menjaga ketahanan modal di tengah situasi pergerakan ekonomi global yang belum stabil.
Sebagai panduan ke depan, terdapat tiga indikator utama yang wajib dipantau ketat oleh investor dalam beberapa bulan mendatang, yaitu yield US Treasury tenor 10 tahun, arus dana asing di pasar saham dan obligasi Indonesia, serta pergerakan kurs rupiah.
"Ketiganya biasanya menjadi indikator awal arah pasar ke depan," kata Budi Frensidy, Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia.