Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat sebesar 0,30 persen ke posisi Rp17.320 pada perdagangan Kamis (7/5/2026) sore. Tren positif ini terjadi di tengah optimisme pasar global mengenai kemungkinan berakhirnya konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.
Berdasarkan data RTI Infokom, mata uang Garuda bergerak dalam rentang Rp17.372 hingga Rp17.292 sepanjang hari perdagangan. Penguatan ini menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia dengan kinerja positif pada hari tersebut, dilansir dari Market.
| Mata Uang | Perubahan (%) |
|---|---|
| Rupiah Indonesia | +0,30% |
| Baht Thailand | +0,28% |
| Dolar Taiwan | +0,19% |
| Yuan China | +0,17% |
| Dolar Singapura | +0,17% |
| Yen Jepang | +0,10% |
| Dolar Hong Kong | +0,05% |
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa indeks dolar melemah karena pelaku pasar merespons positif sikap Iran yang meninjau proposal perdamaian AS. Selain itu, investor kini menantikan data Klaim Pengangguran Awal dan laporan ketenagakerjaan AS periode April.
Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti meningkatnya tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi global yang membuka potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Kondisi geopolitik yang belum stabil menyebabkan harga energi dunia bertahan di level tinggi dalam durasi panjang.
"Dengan crack yang masih tinggi, biaya subsidi bisa jadi lebih besar dari perhitungan pemerintah di APBN. Ini membuat kapasitas fiskal menjadi terbatas," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur Traze Andalan Futures.
Pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk mengubah harga BBM bersubsidi guna menjaga kesehatan fiskal. Namun, kebijakan tersebut dipandang sebagai opsi terakhir karena risiko langsung terhadap penurunan daya beli masyarakat luas.
Untuk perdagangan Jumat (8/5/2026), pergerakan rupiah diprediksi akan berlangsung fluktuatif namun memiliki kecenderungan untuk ditutup kembali menguat. Mata uang domestik diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.300 sampai Rp17.340 per dolar AS.