Rupiah Menguat ke Rp17.380 per Dolar AS pada 6 Mei 2026

Rupiah Menguat ke Rp17.380 per Dolar AS pada 6 Mei 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada level Rp17.380 per dolar AS dalam perdagangan Rabu (6/5/2026). Apresiasi sebesar 0,17 persen ini berhasil memutus tren pelemahan mata uang Garuda yang telah terjadi selama lima hari berturut-turut.

Data Refinitiv menunjukkan rupiah sempat dibuka menguat 0,34 persen ke posisi Rp17.350 per dolar AS pada pagi hari. Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut mencatat penguatan ke level Rp17.405 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.425 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi nasional saat ini tetap kokoh untuk menyokong stabilitas mata uang. Indikator positif terlihat pada pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang menyentuh angka 5,61 persen serta terjaganya cadangan devisa dan rendahnya inflasi.

"Sebabnya ada dua yaitu faktor global, dan kemudian pada faktor musiman," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Perry menjelaskan tekanan jangka pendek terhadap rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak, suku bunga Amerika Serikat yang tinggi, serta yield US Treasury yang mencapai 4,47 persen. Kondisi eksternal tersebut memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang ke aset yang dianggap lebih aman.

"And Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Selain faktor global, permintaan dolar AS di dalam negeri meningkat tajam untuk kebutuhan pembayaran utang, repatriasi dividen, hingga pembiayaan jamaah haji. Namun, pimpinan bank sentral tersebut memproyeksikan pergerakan mata uang akan kembali stabil di masa mendatang.

"Tapi rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat. Itu nomor satu," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menambahkan bahwa penguatan rupiah hari ini terjadi di tengah kondisi pasar yang solid. Berdasarkan data SWIFT yang dilansir AA Stock, porsi dolar dalam pembayaran global mencapai 51,1 persen pada Maret 2026.

"Gubernur Perry Warjiyo menyampaikan rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued dan memiliki potensi untuk menguat, didukung oleh pertumbuhan ekonomi sekitar 5,61 persen, inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit, serta cadangan devisa yang kuat," ungkap Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX.

Sentimen positif juga datang dari pelemahan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,34 persen ke level 98,111 pada Rabu sore. Meski begitu, pelaku pasar masih mencermati ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sewaktu-waktu dapat memicu sentimen risk-off kembali menguat.

"Kombinasi ini membuat mata uang emerging markets, termasuk rupiah, berada dalam tekanan," ujar Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX.

Artikel terkait

Rekomendasi