Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat sebesar 0,29 persen ke level Rp17.654 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (20/5/2026). Penguatan mata uang Garuda ini dipicu oleh perpaduan sentimen konflik Timur Tengah dan respons positif pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik.
Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Investasi, pergerakan rupiah menguat dari posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.703 per dolar AS. Di sisi lain, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menetapkan nilai kurs mata uang nasional berada pada angka Rp17.685 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan indeks dolar AS masih dipengaruhi secara kuat oleh dinamika geopolitik yang melibatkan negara AS, Israel, dan Iran. Risiko gangguan terhadap pasokan minyak global juga tetap tinggi meski Presiden AS Donald Trump menegaskan konflik Timur Tengah akan selesai dalam waktu cepat.
Kekhawatiran pasar ikut meningkat seiring potensi penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia, sehingga memicu ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.
"Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga," ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat mata uang pada Rabu (20/5/2026).
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun kini menyentuh hampir 50 persen. Angka proyeksi tersebut mengalami peningkatan dari posisi pekan sebelumnya yang hanya bertengger di kisaran 35 persen.
Faktor domestik turut memberikan sentimen positif setelah pasar merespons pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI yang menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2027 pada kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen. Pemerintah juga mematok target inflasi 2027 di rentang 1,5 persen sampai 3,5 persen, kurs rupiah pada level Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS, serta imbal hasil SBN tenor 10 tahun di angka 6,5 persen hingga 7,3 persen.
Langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen menjadi pendorong stabilitas domestik lainnya. Kebijakan ini dibarengi dengan kenaikan suku bunga deposit facility menjadi 4,25 persen dan lending facility menjadi 6,25 persen demi menjaga target inflasi 2026-2027 pada level 2,5 persen plus minus 1 persen.
Mata uang rupiah diproyeksikan masih akan bergerak secara fluktuatif serta memiliki potensi melemah pada rentang Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS untuk perdagangan hari Kamis (21/5/2026).