Rupiah Menguat ke Rp 17.333 Berkat Sinyal Damai Timur Tengah

Rupiah Menguat ke Rp 17.333 Berkat Sinyal Damai Timur Tengah

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat sebesar 0,31 persen ke posisi Rp 17.333 per dollar AS pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Dilansir dari Money, apresiasi mata uang Garuda ini dipicu oleh munculnya optimisme pasar terkait potensi berakhirnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa pergerakan positif ini didorong oleh harapan redanya konflik di Timur Tengah. Namun, penguatan mata uang negara berkembang sempat mengalami hambatan setelah Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan terkait proses diplomasi tersebut.

"Optimisme atas kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah. Namun, mereka mengurangi kerugian setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa terlalu dini untuk pembicaraan tatap muka dengan Teheran dan seorang anggota parlemen senior Iran mengatakan bahwa proposal AS lebih merupakan daftar keinginan daripada kenyataan," ujar Ibrahim.

Teheran dilaporkan sedang meninjau proposal perdamaian dari Washington yang diumumkan pada Rabu (6/5/2026). Meskipun berpotensi mengakhiri konflik secara formal, sejumlah poin krusial seperti penghentian program nuklir Iran dan akses Selat Hormuz masih menjadi kendala utama dalam negosiasi.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran melalui kantor berita ISNA mengonfirmasi bahwa pihak pemerintah akan segera mengirimkan tanggapan resmi. Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa pihak Iran memiliki keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan damai.

Laporan media AS Axios menyebutkan bahwa Washington kini menanti respons Teheran dalam kurun waktu 48 jam ke depan. Sumber mediasi asal Pakistan mengindikasikan kedua negara tengah mendekati kesepakatan berupa memorandum satu halaman untuk mengakhiri perselisihan.

Selain faktor geopolitik, fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk klaim pengangguran awal dan pidato pejabat The Fed. Investor juga mengantisipasi laporan nonfarm payrolls periode April yang dijadwalkan terbit pada Jumat (8/5/2026) untuk memprediksi arah suku bunga.

Dari sisi domestik, ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tekanan fiskal akibat tingginya harga energi global. Lonjakan harga minyak mentah Brent yang mendekati level 120 dollar AS per barrel menimbulkan kekhawatiran terkait potensi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) guna menjaga keberlanjutan APBN.

Pemerintah diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil kebijakan harga BBM untuk melindungi daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi. Untuk mengatasi keterbatasan ruang fiskal, penguatan hilirisasi industri dan percepatan deregulasi menjadi langkah prioritas dalam mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku energi.

Artikel terkait

Rekomendasi