Mata uang rupiah di pasar spot ditutup menguat sebesar 53 poin atau 0,30 persen ke level Rp 17.475 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Dilansir dari Money, penguatan ini terjadi di tengah rapuhnya kondisi pasar global akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketidakpastian pasar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan pihak Iran sedang berada dalam fase kritis. Situasi ini dipicu oleh penolakan Iran terhadap proposal perdamaian yang bertujuan untuk membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.
“Konflik yang berkepanjangan telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur transit minyak global utama, yang memicu kekhawatiran akan inflasi yang berkelanjutan akibat kenaikan harga energi dan mempersulit prospek suku bunga,” ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Ibrahim menambahkan bahwa penguasaan Iran yang semakin ketat di Selat Hormuz membuat peluang tercapainya kesepakatan damai masih sangat tipis bagi pasar global. Kondisi tersebut mulai memberikan dampak nyata terhadap ekonomi domestik Amerika Serikat, terutama pada kenaikan harga bahan bakar dan tekanan inflasi yang lebih tinggi.
“Pasar kini menantikan data indeks harga produsen AS yang akan dirilis Rabu nanti untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve,” kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Data ekonomi terbaru menunjukkan indeks harga konsumen AS naik 0,6 persen pada April 2026, yang mendorong inflasi tahunan mencapai angka 3,8 persen. Tingginya angka inflasi inti ini membuat pelaku pasar mulai menurunkan ekspektasi mereka terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun ini.
Beralih ke sentimen domestik, posisi utang pemerintah Indonesia tercatat mencapai Rp 9.920,42 triliun hingga akhir Maret 2026, atau mengalami kenaikan sebesar Rp 282,52 triliun sejak Desember 2025. Meskipun nominalnya meningkat, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di level 40,75 persen, yang dinilai masih jauh di bawah batas aman undang-undang.
“Utang Singapura berada di kisaran 180 persen terhadap PDB, sementara Malaysia di atas 60 persen terhadap PDB,” ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), mayoritas utang tersebut atau sekitar 87,22 persen berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar dengan melakukan intervensi di pasar internasional selama periode cuti bersama.
Bank sentral dijadwalkan akan memulai aksi intervensi yang lebih agresif di pasar domestik pada 18 Mei 2026 mendatang. Langkah ini mencakup intervensi pada pasar valuta asing spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian SBN di pasar sekunder demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.