Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp 17.652 per dolar AS pada perdagangan Kamis pagi, 21 Mei 2026. Berdasarkan laporan dari Suara, mata uang Garuda di pasar spot tersebut menguat sebesar 0,01 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari Selasa yang berada di level Rp 17.653.
Apresiasi tipis ini didorong oleh sikap pelaku pasar yang menanti kepastian situasi geopolitik global serta dampak dari kebijakan moneter domestik. Pergerakan rupiah kali ini terjadi di tengah fluktuasi mata uang di kawasan Asia yang bergerak variatif terhadap dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan yang terbatas ini terjadi karena para investor masih menunggu indikasi perdamaian yang lebih jelas antara Iran dan Amerika Serikat.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah harapan damai setelah Trump memberi sinyal adanya kemajuan dalam pembicaraan kesepakatan Iran," kata Lukman Leong.
Selain faktor global, sentimen positif juga datang dari dalam negeri melalui kebijakan bank sentral. Proyeksi penguatan rupiah hingga sore hari diperkirakan bakal ditopang oleh reaksi pasar terhadap langkah Bank Indonesia.
"Kenaikan suku bunga "jumbo" oleh BI pada hari Rabu juga masih mendukung rupiah. Range 17600-17700," kata Lukman Leong.
Di lingkup regional, peso Filipina memimpin penguatan mata uang Asia dengan kenaikan sebesar 0,19 persen. Penguatan ini diikuti oleh dolar Taiwan sebesar 0,15 persen, yuan China 0,05 persen, serta yen Jepang dan dolar Hong Kong yang sama-sama terapresiasi 0,03 persen, sedangkan ringgit Malaysia naik tipis 0,02 persen.
Sebaliknya, pelemahan terdalam di Asia dicatatkan oleh won Korea Selatan yang terkoreksi sebesar 0,41 persen. Tren penurunan ini juga dialami oleh baht Thailand yang melemah sebesar 0,09 persen dan dolar Singapura yang turun tipis 0,05 persen pada perdagangan pagi.