Nilai tukar rupiah diprediksi berpotensi merosot hingga menyentuh level Rp 18.300 per dollar AS sepanjang tahun 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di wilayah Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasar global.
Kondisi pasar terkini menunjukkan volatilitas yang tinggi sebagaimana dilansir dari Money. Pada perdagangan Senin (4/5/2026), posisi rupiah tercatat telah melewati batas psikologis baru dengan berada di kisaran Rp 17.400 per dollar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pada kuartal II 2026, pergerakan nilai tukar kemungkinan berada di rentang Rp 17.200 hingga Rp 17.600. Situasi ini sangat dipengaruhi oleh tingginya harga minyak mentah dunia serta ketegangan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.
"Jika Brent bertahan di atas 110 dollr AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Pardede menambahkan bahwa terdapat skenario yang lebih berat apabila harga minyak Brent melampaui 120 dollar AS per barrel. Risiko tambahan juga muncul dari potensi pelebaran defisit transaksi berjalan serta kekhawatiran pelaku pasar mengenai kondisi fiskal dalam negeri.
"Namun, saya belum menjadikan level tersebut sebagai skenario dasar. Level itu baru relevan sebagai skenario tekanan ekstrem jika konflik Timur Tengah berkepanjangan, harga minyak melonjak jauh lebih tinggi, dan investor asing keluar lebih agresif," ucap Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Kombinasi antara pelemahan nilai tukar dan lonjakan komoditas energi ini dikhawatirkan akan berdampak langsung pada ekonomi domestik. Dampak nyatanya mencakup potensi kenaikan harga BBM subsidi, peningkatan laju inflasi, hingga risiko melambatnya pertumbuhan ekonomi di bawah angka 5 persen.
"Tetapi jika perang dan tekanan minyak berlanjut, akhir tahun lebih realistis berada di sekitar Rp 17.300 sampai Rp 17.700," tambah Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Senada dengan analisis tersebut, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengamati bahwa ruang koreksi bagi rupiah masih terbuka lebar. Fokus utama pengamatan pasar saat ini tertuju pada gangguan distribusi energi di Selat Hormuz.
"Apabila Selat Hormuz masih ditutup dah minyak mentah masih di atas 100 dollar AS, rupiah bisa mencapai Rp 18.000," ucap Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.
Data pergerakan pasar pada Rabu (6/5/2026) mencatat rupiah sempat menguat tipis 0,24 persen ke posisi Rp 17.383 per dollar AS saat pembukaan. Meski demikian, penguatan tersebut bersifat sementara karena harga kembali bergerak melemah ke atas level Rp 17.400 per dollar AS.