Rupiah Pecah Rekor Terendah Sepanjang Sejarah 3 Juni 2026 Akibat Konflik Teluk

Rupiah Pecah Rekor Terendah Sepanjang Sejarah 3 Juni 2026 Akibat Konflik Teluk

Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencetak rekor terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Gejolak ini dipicu oleh menguatnya mata uang Negeri Paman Sam serta meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah.

Mengutip data Bloomberg, seperti dikutip dari Investasi, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.967 per dolar AS. Nilai ini melemah 0,70% dibandingkan penutupan Selasa (2/6) yang berada di posisi Rp 17.839 per dolar AS.

Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren penurunan rupiah selama dua hari berturut-turut.

Senasib, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) juga melemah. Rupiah berada di level Rp 17.931 per dolar AS, turun 0,38% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang tercatat Rp 17.863 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi seiring menguatnya dolar AS dan melonjaknya harga energi global akibat memanasnya konflik di kawasan Teluk.

Melansir Reuters, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong harga minyak dunia naik lebih dari 1%.

Kondisi tersebut menambah tekanan bagi negara-negara pengimpor energi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga minyak berpotensi mempersempit surplus perdagangan, meningkatkan tekanan inflasi, serta memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi. Situasi ini pada akhirnya dapat memicu arus keluar modal dan pelemahan nilai tukar domestik.

Chief Economist PermataBank Josua Pardede menilai, pelemahan rupiah dipicu kombinasi sejumlah faktor yang terjadi secara bersamaan.

"Pemicu yang paling langsung adalah kenaikan harga minyak, surplus perdagangan April yang hampir habis, pelemahan rupiah ke rekor terendah baru, serta kekhawatiran bahwa posisi fiskal Indonesia akan semakin sulit dipertahankan jika harga energi tetap tinggi," ujarnya.

Menurut Josua, pasar juga mulai mencermati risiko yang lebih luas apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Ia menjelaskan, apabila nilai tukar rupiah mendekati atau menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS dan pasar saham terus melemah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) meningkat, maka pelaku pasar dapat mulai memperhitungkan risiko penurunan kepercayaan terhadap aset-aset domestik.

"Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar mulai memperhitungkan risiko guncangan kepercayaan yang lebih luas," tambahnya.

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi di tengah menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia.

Data terbaru menunjukkan surplus perdagangan April turun ke level terendah dalam enam tahun terakhir, sementara inflasi Mei bergerak mendekati batas atas target Bank Indonesia.

Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut membuat pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar, terutama di tengah lonjakan harga energi global dan penguatan dolar AS yang masih berlanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi