Nilai tukar rupiah Indonesia dan rupee India kembali mengalami tekanan besar pada perdagangan Rabu. Seperti dilansir dari Money, kondisi ini dipicu oleh penguatan dollar Amerika Serikat (AS) seiring dengan konflik Iran yang belum mereda.
Saat ini, posisi dollar AS berada di kisaran Rp 17.701 dan 96,81 rupee India per dollar AS. Melonjaknya harga energi serta meningkatnya ketidakpastian global memaksa para investor untuk kembali memburu aset aman berbasis dollar AS.
Tekanan ekonomi tersebut pada akhirnya mendorong rupiah dan rupee menyentuh level terendah baru sepanjang sejarah. Penguatan dollar AS terjadi setelah pasar mulai memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga di AS akibat inflasi yang terkerek oleh perang Iran.
Pasar finansial global saat ini mengkhawatirkan kenaikan harga energi akan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Situasi tersebut langsung memicu aksi jual obligasi secara global.
Bahkan, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun merangkak naik ke level tertinggi sejak tahun 2007. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa AS mungkin perlu melakukan serangan balasan ke Iran, meski ia juga menyebut Teheran mulai menginginkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Konflik di Timur Tengah ini telah mengguncang pasar keuangan dunia dan membuat harga energi melonjak tajam. Mata uang dollar AS pun terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya.
Mata uang euro melemah ke tingkat 1,16025 dollar AS per euro dan sempat menyentuh posisi terendah sejak 8 April. Sementara itu, poundsterling Inggris tertahan di level 1,34 dollar AS, tidak jauh dari titik terendah dalam enam minggu terakhir.
Di sisi lain, dollar Australia menyusut ke level 0,7105 dollar AS dan dollar Selandia Baru berada di posisi 0,5834 dollar AS. Kedua mata uang tersebut sering menjadi indikator sentimen risiko global dan kini mendekati posisi terendah lima minggu.
Indeks dollar AS bertahan di level 99,306 terhadap sekeranjang mata uang utama dunia. Sepanjang Mei, indeks ini sudah menguat lebih dari 1 persen karena tingginya permintaan aset aman dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Pelaku pasar kini memproyeksikan peluang lebih dari 50 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Perkiraan ini berbalik tajam dibandingkan sebelum perang Iran pecah, saat investor memprediksi akan ada dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.
Saat ini, pergerakan pasar juga sedang menantikan rilis risalah rapat terakhir Federal Reserve. Ahli Strategi Mata Uang Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, memperkirakan isi risalah tersebut akan bernada hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter ketat.
"Kami terus memperkirakan FOMC akan memulai siklus pengetatan pada bulan Desember," kata Kong.
Sebagai informasi, FOMC merupakan Federal Open Market Committee yang bertindak sebagai komite penentu kebijakan suku bunga Federal Reserve. Menurut Carol Kong, semakin banyak pejabat Federal Reserve yang mulai memperingatkan risiko inflasi tinggi sejak rapat terakhir pada April lalu.
Meskipun sempat tercapai gencatan senjata yang rapuh pada April, pasar tetap diselimuti kekhawatiran karena Selat Hormuz belum sepenuhnya normal. Selat tersebut merupakan jalur distribusi krusial bagi minyak dan komoditas dunia.
Harga minyak Brent saat ini bertengger di level 110,46 dollar AS per barel, atau sekitar Rp 1,95 juta per barel dengan acuan kurs Rp 17.701 per dollar AS. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum perang meletus pada akhir Februari.
Lonjakan harga energi ini mulai memberikan tekanan yang masif terhadap mata uang negara-negara berkembang. Rupee India dan rupiah Indonesia menjadi dua mata uang yang paling terpukul pada perdagangan Rabu.
Yen Jepang Dekati Zona Intervensi
Penguatan dollar AS yang agresif juga menyeret mata uang yen Jepang kembali mendekati level kritis yang berpotensi memicu intervensi pemerintah. Nilai tukar yen saat ini berada di kisaran 158,93 yen per dollar AS.
Posisi tersebut mendekati level psikologis 160 yen per dollar AS yang pada bulan lalu sempat membuat pemerintah Jepang turun tangan langsung di pasar valuta asing. Berdasarkan laporan Reuters, Jepang telah melakukan beberapa kali intervensi pada akhir April dan awal Mei demi menahan pelemahan yen.
Namun, dampak penguatan yen tersebut hanya bertahan sementara waktu. Pelaku pasar kini juga mencermati komentar Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang dinilai membuka jalan bagi Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga.
Bessent menyatakan dirinya meyakini Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, akan melakukan tindakan yang diperlukan jika mendapatkan independensi yang cukup dari pemerintah Jepang. Pernyataan ini ditafsirkan sebagai lampu hijau dari Washington untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut di Jepang.
Ahli Strategi Mata Uang OCBC, Christopher Wong, menyebutkan bahwa pasar kini mulai berhati-hati terhadap risiko intervensi lanjutan dari pemerintah Jepang.
"Dalam jangka pendek, volatilitas yang berlebihan adalah kuncinya sementara 160 sampai 161 tetap menjadi garis yang perlu diperhatikan," kata Wong.
"Risiko intervensi seharusnya membuat pasar lebih berhati hati dalam mengejar kenaikan dollar terhadap yen, tetapi kecuali imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dollar AS secara luas melemah, tindakan resmi mungkin hanya akan memperlambat pergerakan tersebut untuk sementara waktu, bukan membalikkannya," lanjut dia.