Nilai tukar rupiah yang melampaui level Rp17.000 per dolar AS mulai memberikan tekanan signifikan pada pasar Surat Berharga Negara (SBN). Fenomena ini turut menguji daya tahan sektor perbankan nasional di tengah gejolak pasar keuangan domestik.
Dilansir dari Ekonomi, data terkini menunjukkan rupiah sempat menyentuh angka Rp17.445 per dolar AS. Sepanjang pekan ini, mata uang Garuda bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.400 per dolar AS.
Kondisi pelemahan ini memicu volatilitas di pasar SBN yang ditandai dengan kenaikan yield dan penurunan harga pada pasar sekunder. Gejolak tersebut dipengaruhi oleh arus modal global, arah suku bunga internasional, serta persepsi risiko investor.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa hubungan antara rupiah dan SBN terlihat jelas dari perilaku investor asing. Penurunan nilai tukar secara otomatis mengurangi tingkat pengembalian bagi pemegang obligasi pemerintah.
"Ketika rupiah melemah, investor asing yang memegang obligasi pemerintah otomatis mengalami penurunan return dalam dolar, yield SBN 10 tahun memang masih tinggi di kisaran 6,7%, tetapi kalau rupiah melemah 4% dalam setahun, return riil dalam dolar menjadi jauh lebih kecil dan kalah menarik dibanding US Treasury yang risikonya lebih rendah," ujarnya.
Situasi ini memicu investor asing untuk keluar dari pasar SBN dan mengonversi dana mereka ke dolar AS. Proses tersebut menciptakan siklus yang saling memperkuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Faktor eksternal seperti tingginya harga minyak dunia turut memperburuk kebutuhan impor energi Indonesia. Hal ini memberikan tekanan tambahan pada transaksi berjalan dan mendorong investor beralih ke aset aman atau safe haven.
Peran Perbankan sebagai Penyokong Pasar
Perbankan nasional kini mengambil peran penting sebagai penyangga utama pasar SBN, terutama saat investor asing menarik modalnya. Likuiditas bank yang masih longgar memungkinkan sebagian dana dialihkan ke instrumen moneter dan obligasi negara.
"Di tengah kondisi itu, perbankan nasional sekarang berperan sebagai penyangga utama pasar SBN. Sejak SRBI diperluas dan pemerintah mulai menempatkan dana di perbankan untuk menyerap obligasi, bank-bank domestik secara tidak langsung didorong menjadi anchor investor," kata Yusuf.
Meskipun berfungsi sebagai penyangga, peningkatan alokasi dana ke SBN berpotensi menimbulkan risiko crowding out terhadap kredit sektor riil di masa depan. Kenaikan yield juga memberikan beban pada biaya dana perbankan.
Dampak volatilitas ini dinilai tidak merata bagi seluruh lembaga keuangan. Yusuf menekankan bahwa bank besar dalam kategori KBMI 4 memiliki ketahanan yang lebih baik karena diversifikasi pendapatan yang lebih luas dan kemampuan treasury yang matang.
"Bank-bank besar KBMI 4 relatif lebih tahan karena pendapatannya lebih terdiversifikasi dan kemampuan treasury mereka lebih matang. Sementara bank yang lebih kecil dan masih sangat bergantung pada margin bunga cenderung lebih sensitif terhadap volatilitas yield dan biaya dana," tuturnya.
Analisis Arus Dana dan Risiko Global
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dan tekanan pasar SBN membentuk hubungan dua arah. Investor asing menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk menutup risiko kurs yang meningkat.
"Ketika rupiah melemah, investor asing menuntut imbal hasil SBN yang lebih tinggi untuk menutup risiko kurs. Pada saat yang sama, ketika investor asing melepas SBN, mereka menukar rupiah menjadi dolar sehingga tekanan ke rupiah bertambah," ujar Josua.
Berdasarkan data kuartal I/2026, arus modal keluar dari pasar domestik mencapai sekitar US$1,79 miliar. Sektor SBN mencatat outflow sebesar US$1,48 miliar, sementara pasar saham mengalami penarikan dana senilai US$1,95 miliar.
Meski demikian, instrumen SRBI masih mampu menarik arus masuk sekitar US$1,64 miliar. Memasuki bulan April, terlihat aliran dana masuk sebesar US$2,06 miliar, namun sentimen pasar saham masih dibayangi aksi jual investor asing.
Pelemahan rupiah di atas level psikologis Rp17.000 menjadi sinyal waspada terkait tiga risiko utama. Risiko tersebut meliputi inflasi impor, potensi pengetatan kebijakan moneter, serta tekanan fiskal akibat kenaikan harga energi global.
Kapasitas dan Batasan Likuiditas Bank
Josua menjelaskan bahwa perbankan memiliki ruang untuk menyerap volatilitas, namun kapasitasnya tetap memiliki batasan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,55 persen secara tahunan menjadi Rp10.231 triliun pada Maret 2026.
"Secara likuiditas, bank sebenarnya masih cukup kuat. OJK mencatat pada Maret 2026 DPK tumbuh 13,55% secara tahunan menjadi Rp10.231 triliun, sementara berbagai rasio likuiditas berada di level tinggi. Namun bank juga tetap harus menjaga kualitas aset, kebutuhan likuiditas, dan risiko nilai pasar portofolio," kata Josua.
Data menunjukkan rasio alat likuid terhadap DPK berada di angka 27,85 persen, sedangkan LCR mencapai 193,64 persen. Meskipun bantalan likuiditas memadai, kontribusi perbankan terhadap kepemilikan SBN bersifat dinamis dan sempat mengalami penurunan.
Kenaikan yield SBN juga berdampak pada penetapan bunga kredit perbankan. Sebagai acuan imbal hasil bebas risiko, yield yang tinggi mendorong bank untuk menetapkan pricing kredit yang lebih mahal, terutama pada segmen UMKM dan modal kerja.
Saat ini kondisi perbankan masih tergolong solid dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level 2,14 persen. Peran otoritas moneter melalui intervensi pasar valas dan optimalisasi instrumen SRBI tetap menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasar.