Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level terendah sepanjang masa pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Seperti dikutip dari Market, mata uang Garuda melemah 0,46 persen atau turun 79,4 poin ke posisi Rp17.500,4 per dolar AS.
Depresiasi ini mencatatkan penurunan nilai rupiah sebesar 2,18 persen dalam satu bulan terakhir. Jika dihitung secara tahunan, mata uang domestik telah merosot hingga 5,39 persen di tengah ketidakpastian pasar global.
Kondisi ini berdampak langsung pada pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun terpantau melesat ke level 6,74 persen, naik signifikan dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di 6,58 persen.
Laporan Trading Economics menyebutkan bahwa penguatan indeks dolar AS menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Penguatan greenback didorong oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkepanjangan.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tersebut menyulut kenaikan harga minyak global secara tajam. Fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar areanya masih tertutup sejak konflik pecah.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi bahwa pergerakan rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan hari ini. Ia memperkirakan mata uang akan bergerak di rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS.
Ibrahim menjelaskan bahwa penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal perdamaian terbaru dari Iran telah meningkatkan risiko geopolitik. Sikap tersebut meredam ekspektasi pasar akan adanya deeskalasi di kawasan Teluk.
"Komentar tersebut meningkatkan risiko geopolitik. Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak konflik dimulai," kata Ibrahim.
Pada perdagangan sebelumnya, Senin, 11 Mei 2026, rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp17.414 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat menguat 0,09 persen menuju level 97,98.
Di sisi lain, keraguan pasar muncul terkait kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Padahal, otoritas moneter telah memperketat aturan valuta asing, meningkatkan likuiditas, hingga memperkuat koordinasi makroprudensial.
Kekhawatiran ini diperparah dengan kondisi cadangan devisa per April 2026 yang dilaporkan turun. Cadangan devisa nasional tercatat berada pada level terendah dalam periode hampir dua tahun terakhir.
Data historis menunjukkan posisi terendah rupiah sebelumnya berada di Rp17.519 pada Mei 2026. Trading Economics memprediksi rupiah berada di level Rp17.388 pada akhir kuartal kedua 2026, meski ada risiko penurunan lebih dalam pada akhir tahun.