Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat menembus level Rp17.500 pada Jumat, 15 Mei 2026, akibat hantaman sentimen eksternal berupa ketegangan geopolitik AS-Iran dan kenaikan harga energi. Dilansir dari Suara, kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global yang memaksa investor mengalihkan aset ke instrumen lebih aman.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa depresiasi mata uang Garuda dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang memberikan tekanan pada mayoritas mata uang di kawasan Asia. Indonesia dinilai sangat rentan karena ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan energi global.
"Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS, dan rupiah jatuh tajam karena kenaikan harga minyak memunculkan kekhawatiran terhadap inflasi, defisit fiskal, dan pasokan energi Indonesia," katanya Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Performa rupiah pada Mei 2026 menunjukkan tren penurunan sebesar 0,8 persen secara bulanan atau menyusut 2,9 persen dalam hitungan kuartalan. Selain faktor eksternal, permintaan dolar untuk pembayaran dividen pada kuartal II serta isu keberlanjutan fiskal domestik turut memperberat posisi mata uang lokal.
Ketidakpastian semakin meningkat setelah muncul peringatan dari MSCI serta revisi prospek peringkat Indonesia oleh lembaga internasional seperti Fitch dan Moody’s. Namun, Josua menekankan bahwa indikator fundamental ekonomi nasional masih menunjukkan performa yang cukup solid.
"Jadi, pelemahan rupiah kali ini bukan hanya soal Indonesia, tetapi bagian dari tekanan luas terhadap mata uang negara berkembang, terutama negara pengimpor energi," jelas Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Data pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen dengan inflasi April yang terjaga di level 2,42 persen. Meskipun risiko rupiah menyentuh Rp18.000 mulai terbuka lebar, Josua menganggap skenario tersebut sangat bergantung pada perkembangan konflik di Selat Hormuz.
"Jika respons kebijakan moneter dan fiskal dianggap tidak meyakinkan oleh pasar, maka arus modal keluar dari pasar saham dan SBN berpotensi terus berlanjut," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 berada di angka 146,2 miliar dolar AS, yang diklaim setara dengan 5,8 bulan impor. Bank Indonesia diprediksi masih memiliki ruang intervensi melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Analisis teknis menunjukkan bahwa nilai wajar rupiah seharusnya berada di bawah Rp17.000 berdasarkan model Real Effective Exchange Rate (REER). Kondisi saat ini dianggap mencerminkan kepanikan pasar jangka pendek di tengah pertumbuhan impor yang mencapai 7,18 persen.