Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Serahkan ke Bank Indonesia

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Serahkan ke Bank Indonesia

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot tajam hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pengelolaan stabilitas mata uang tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan Bank Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang AS menguat sebesar 77 poin atau 0,43 persen ke posisi Rp18.044. Menkeu Purbaya menilai situasi saat ini belum memerlukan koordinasi khusus melalui rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) karena bank sentral dianggap masih mampu mengendalikan keadaan.

"Nanti Anda ngelihat saya panik. Pada dasarnya BI masih menjalankan kegiatan dengan baik dan semuanya masih di bawah kendali mereka. Saya serahkan rupiah ke mereka," kata Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Meskipun menaruh kepercayaan penuh pada bank sentral, Menkeu Purbaya tidak menampik adanya dampak negatif dari penurunan nilai tukar ini terhadap anggaran negara. Konsekuensi utama yang harus dihadapi pemerintah adalah membengkaknya biaya untuk melunasi utang luar negeri.

"Harusnya sih fix kuponnya, tapi kan kalau dia jual di pembayaran utang kan lewat kupon. Kuponnya sih konstan. Cuma, pada waktu rupiah melemah ya ikut meningkat kan dalam rupiah pembayarannya," ujar Purbaya.

Pemerintah memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman karena fluktuasi ini masih masuk dalam proyeksi. Simulasi matang telah dilakukan sejak awal penyusunan anggaran, termasuk mengantisipasi lonjakan harga energi dunia.

"Kan gini, pada waktu APBN pertama kan ada asumsinya berapa? Rp 16.500, ya?T api kan terus ada simulasi pada waktu harga BBM naik tinggi kan? Ya, kita hitung di situ. Adjustment-nya cukup tinggi, tapi kan saya nggak sebutkan kan nanti rupiah melemah signifikan, tapi basically, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang," beber Purbaya.

Sebagai langkah konkret menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, Kementerian Keuangan telah mengucurkan dana segar untuk menyerap surat utang negara. Intervensi ini berhasil menahan gejolak pada pasar obligasi pemerintah.

"Mungkin Rp 8 triliun lebih yang di obligasi ya, tapi itu yang boleh diomongin, ya. Nggak apa-apa, biar Anda tahu, saya intervensi sedikit. Terus 10 tahun kan relatif stabil atau cenderung turun. Jadi, dampaknya ada ke surat utang kita," tutup Purbaya.

Anjloknya nilai tukar mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran global dan menjadi pemberitaan utama di berbagai media internasional. Media asal Qatar, Al Jazeera, melaporkan bahwa posisi rupiah saat ini merupakan titik terendah yang pernah tercatat dalam sejarah keuangan Republik Indonesia.

"Rupiah Indonesia telah mencapai level terlemahnya terhadap dolar AS, menembus ambang batas psikologis 18.000 di tengah melonjaknya biaya energi," demikian laporan Al Jazeera.

Al Jazeera menganalisis bahwa eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran menjadi pemicu utama pembengkakan biaya impor energi Indonesia. Hal ini kemudian berdampak langsung pada defisit neraca perdagangan nasional.

"Tekanan yang dihasilkan pada neraca perdagangan telah berkontribusi pada arus keluar modal dan pelemahan mata uang," demikian laporan Al Jazeera.

Kritik tajam datang dari media Hong Kong, Asia Times, yang menilai kelambatan serta ketidakkonsistenan kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia memperparah kejatuhan rupiah. Tekanan yang terjadi selama dua bulan terakhir ini dianggap sebagai sinyal adanya kelebihan beban yang sangat ekstrem.

"Keruntuhan mata uang tersebut tidak lagi mencerminkan fundamental daya beli yang mendasarinya, tetapi mencerminkan ketidakseimbangan pasar yang didorong oleh kepanikan, pelarian modal besar-besaran, dan kekurangan likuiditas dolar akut di pasar spot domestik," tulis Asia Times.

Asia Times juga menyoroti bahwa bank sentral terlalu fokus pada penurunan angka inflasi tahunan yang menyentuh 2,42 persen pada April 2026. Akibatnya, respons terhadap dinamika pasar global menjadi terlambat.

"Krisis yang sedang berkembang ini diperparah oleh keterlambatan respons Bank Indonesia terhadap meningkatnya tekanan pasar. Bank sentral terlalu terlena dengan moderasi inflasi domestik, yang turun menjadi 2,42 persen pada April 2026," lanjut Asia Times.

Media tersebut mencatat bahwa kebijakan Bank Indonesia yang mengandalkan instrumen non-suku bunga terbukti tidak efektif membendung depresiasi rupiah. Sementara itu, media Singapura The Straits Times melaporkan kejatuhan nilai mata uang ini terjadi bersamaan dengan merosotnya indeks harga saham gabungan di dalam negeri.

"Dalam beberapa minggu terakhir, kekhawatiran tentang pengawasan pemerintah yang lebih ketat terhadap sektor komoditas utama juga telah melemahkan sentimen," demikian laporan The Straits Times.

The Straits Times memberitakan bahwa sentimen negatif pasar kian diperparah oleh kebijakan restrukturisasi perdagangan komoditas. Kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk mengontrol langsung ekspor komoditas strategis memicu kecemasan di kalangan investor global.

Artikel terkait

Rekomendasi