Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS pada Selasa 5 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS pada Selasa 5 Mei 2026

Nilai tukar rupiah merosot hingga menembus level psikologis Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Berdasarkan data Refinitiv pukul 09.07 WIB, mata uang Garuda melemah 0,22 persen ke posisi Rp17.403 per dolar AS yang menjadi rekor terlemah sepanjang masa.

Pelemahan ini memperdalam depresiasi rupiah yang sebelumnya dibuka pada level Rp17.380 per dolar AS. Posisi tersebut menjauh dari penutupan Senin, 4 Mei 2026, di level Rp17.365 per dolar AS, sementara indeks dolar AS (DXY) terpantau naik ke angka 98,521 menurut laporan CNBC Indonesia.

Kondisi pasar global yang tidak menentu memicu peningkatan permintaan aset safe haven seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi perang di Timur Tengah. Penguatan dolar AS secara global akhirnya membatasi ruang gerak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang terus tertekan.

Tekanan terhadap aset domestik juga terlihat pada pasar modal, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sekitar 2 persen ke level 6.957. Aksi jual investor asing di pasar reguler mencapai Rp1,7 triliun, terutama menyasar saham perbankan berkapitalisasi besar sebagaimana dicatat Medcom.id.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, memberikan pandangannya mengenai urgensi stabilitas nilai tukar bagi daya tarik aset keuangan nasional. Ia menilai volatilitas rupiah merupakan risiko utama yang menjadi pertimbangan bagi investor asing dalam menanamkan modal.

"stabilitas nilai tukar menjadi faktor kunci dalam menjaga daya tarik aset keuangan domestik." ujar Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Rully menambahkan bahwa instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) saat ini menjadi alat utama otoritas moneter untuk menjaga pasar. Instrumen ini tercatat memiliki outstanding mendekati Rp885 triliun dengan imbal hasil tenor 12 bulan di kisaran 6,22 persen untuk menarik minat investor.

"apakah peningkatan imbal hasil semata cukup untuk mengembalikan kepercayaan pasar ?" tanya Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga merangkak naik ke posisi 6,86 persen yang mencerminkan kenaikan premi risiko. Selain faktor imbal hasil, pasar kini menanti koordinasi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal serta konsistensi kebijakan makro guna mengelola risiko di tengah ketidakpastian global.

Artikel terkait

Rekomendasi