Nilai tukar rupiah di pasar spot merosot ke posisi Rp 17.597 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (15/5/2026). Angka ini mencatatkan sejarah baru sebagai level penutupan rupiah paling lemah yang pernah terjadi.
Dilansir dari Investasi, mata uang garuda tersebut mengalami pelemahan sebesar 0,39 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pada perdagangan Kamis, rupiah masih berada di level Rp 17.529 per dolar AS.
Kondisi ini sejalan dengan tren negatif yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia pada sore yang sama. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama dunia tercatat naik menjadi 99,12 dari posisi sebelumnya 98,81.
Baht Thailand memimpin pelemahan di Asia dengan penurunan sedalam 0,53 persen terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menyusul di posisi kedua dengan koreksi 0,48 persen, disusul oleh won Korea yang melemah 0,47 persen.
Yuan China dan dolar Singapura masing-masing juga tercatat melemah 0,25 persen dan 0,24 persen. Sementara itu, rupee India merosot 0,18 persen, sedangkan peso Filipina serta dolar Taiwan sama-sama terkoreksi 0,13 persen.
Yen Jepang tercatat mengalami pelemahan tipis sebesar 0,04 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Di sisi lain, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di Benua Kuning yang mampu menguat dengan kenaikan 0,05 persen.
| Mata Uang | Perubahan (%) |
|---|---|
| Baht Thailand | -0,53% |
| Ringgit Malaysia | -0,48% |
| Won Korea | -0,47% |
| Rupiah Indonesia | -0,39% |
| Yuan China | -0,25% |
| Dolar Singapura | -0,24% |
| Rupee India | -0,18% |
| Peso Filipina | -0,13% |
| Dolar Taiwan | -0,13% |
| Yen Jepang | -0,04% |
| Dolar Hong Kong | +0,05% |