Rupiah Tertinggal dari Negara Berkembang Akibat Tekanan Fiskal Domestik

Rupiah Tertinggal dari Negara Berkembang Akibat Tekanan Fiskal Domestik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai masih tertinggal dibandingkan dengan mata uang negara-negara berkembang lainnya akibat besarnya premi risiko dari dalam negeri pada Selasa (26/5).

Faktor domestik kini lebih dominan menekan mata uang Garuda di tengah kondisi penguatan jangka pendek greenback yang dilansir dari Investasi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa penguatan dolar saat ini hanya mencerminkan technical rebound setelah melemah cukup dalam pada beberapa bulan lalu.

"DXY memang masih punya kecenderungan melemah dalam jangka menengah, tetapi tidak berarti dolar akan turun terus tanpa rebound. Pergerakannya tetap akan fluktuatif dan masih berada di level yang relatif tinggi secara historis," ujar Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Meredanya ketegangan geopolitik global dan tingginya ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed sebelumnya menjadi pemicu pelemahan dolar. Penurunan harga minyak dunia juga turut meredakan inflasi di Amerika Serikat.

"Kalau dibandingkan negara emerging markets lain, rupiah relatif tertinggal. Ini menunjukkan pasar masih melihat adanya premi risiko domestik yang cukup besar," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Kekhawatiran pasar terhadap situasi fiskal menjadi pemicu utama karena investor mencermati kemampuan pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal saat kebutuhan belanja meningkat dan tax ratio masih rendah. Penyusutan surplus perdagangan serta keluarnya arus modal asing juga ikut memperlemah pasokan valuta asing domestik.

"Bank Indonesia saat ini berada dalam posisi defensif. Tanpa intervensi valas dan kenaikan suku bunga, tekanan terhadap rupiah kemungkinan akan lebih besar," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Perubahan outlook dari lembaga pemeringkat turut membuat pelaku pasar semakin sensitif terhadap risiko Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25% dinilai lebih bertujuan untuk menjaga stabilitas mata uang ketimbang mendorong penguatan yang signifikan.

Untuk kuartal III-2026, indeks dolar AS berpotensi melemah moderat jika tensi geopolitik mereda dan pasar yakin akan pelonggaran suku bunga The Fed. Rupiah diproyeksikan bergerak stabil di kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.700 per dolar AS meskipun ruang penguatannya masih terbatas akibat keraguan pasar terhadap fundamental domestik.

Artikel terkait

Rekomendasi