Ryanair Siapkan Rencana Darurat Hadapi Krisis Avtur Global

Ryanair Siapkan Rencana Darurat Hadapi Krisis Avtur Global

Maskapai penerbangan Ryanair telah menyiapkan skenario darurat guna mengantisipasi potensi krisis bahan bakar jet atau avtur akibat ketidakpastian geopolitik global global pada Senin (18/5/2026).

Langkah antisipasi ini diambil perusahaan penerbangan asal Irlandia tersebut di tengah fluktuasi pasar energi yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah serta blokade Selat Hormuz, dilansir dari Money.

“Apakah kami memiliki rencana untuk semacam situasi terburuk? Tentu saja ada. Tetapi saya tidak melihat skenario itu benar-benar terjadi,” kata Neil Sorahan, Chief Financial Officer (CFO) Ryanair.

Pihak manajemen memastikan operasional maskapai saat ini masih berjalan normal tanpa adanya pengurangan rute penerbangan jarak jauh maupun pendek.

“Saat ini kami tetap mengoperasikan jadwal penerbangan penuh pada musim panas dan berencana melanjutkannya hingga musim dingin,” lanjut Neil Sorahan, Chief Financial Officer (CFO) Ryanair.

Krisis energi ini diperkirakan akan memberikan dampak yang bervariasi bagi industri penerbangan di kawasan Eropa.

“I pikir kita akan melihat beberapa maskapai yang sebelumnya memang sudah kesulitan kemungkinan tumbang pada musim dingin nanti,” kata Neil Sorahan, Chief Financial Officer (CFO) Ryanair.

Menurut analisis internal perusahaan, berkurangnya ketergantungan Eropa terhadap pasokan minyak dari Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang meredakan kekhawatiran terkait ketersediaan bahan bakar.

“Kita sedang berada di pasar minyak yang sangat volatil. Beberapa bulan lalu memang ada kekhawatiran terkait pasokan minyak, tetapi sekarang kami semakin yakin pasokan untuk musim panas ini tidak akan menjadi masalah besar,” ujar Neil Sorahan, Chief Financial Officer (CFO) Ryanair.

Manajemen Ryanair mengklaim posisi keuangan perusahaan relatif aman karena kebijakan lindung nilai yang telah diterapkan sebelumnya.

“Namun demikian, saya pikir harga energi akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama. Situasi ini justru menempatkan Ryanair pada posisi yang cukup kuat karena strategi hedging bahan bakar kami,” kata Neil Sorahan, Chief Financial Officer (CFO) Ryanair.

Penentuan tarif penerbangan pada musim panas ini akan disesuaikan dengan tingkat permintaan dan kapasitas keterisian kursi pesawat.

“Kami tidak pernah menjanjikan tidak akan ada kenaikan harga. Ryanair menerapkan strategi harga untuk memastikan kursi pesawat terisi penuh, dan konsumen pada akhirnya yang menentukan harga tersebut,” ujar Neil Sorahan, Chief Financial Officer (CFO) Ryanair.

Sebelumnya, tantangan berat mengenai kelangsungan bisnis penerbangan akibat tingginya harga bahan bakar juga sempat disuarakan oleh pimpinan tertinggi perusahaan.

“Saya pikir akan ada maskapai yang gagal bertahan. Jika harga minyak bertahan di level 150 dollar AS per barrel hingga Juli, Agustus, dan September, maka akan ada maskapai Eropa yang tumbang,” kata Michael O'Leary, CEO Ryanair.

Saham Ryanair tercatat melemah sebesar 2,7 persen pada penutupan perdagangan Senin setelah rilis laporan keuangan tahunan dikeluarkan.

Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan, nilai saham maskapai penerbangan bertarif rendah tersebut telah mengalami penurunan hingga 27,5 persen.

Untuk mengamankan operasional, Ryanair telah melakukan strategi lindung nilai terhadap 80 persen kebutuhan bahan bakar musim panas dengan patokan harga 668 dollar AS per metrik ton.

Sebaliknya, sisa 20 persen kebutuhan bahan bakar yang belum terlindungi nilainya terpaksa mengikuti lonjakan harga pasar akibat volatilitas energi.

Sorahan mengibaratkan potensi kebangkrutan maskapai Eropa yang rentan bisa menyerupai kasus kolapsnya Spirit Airlines di Amerika Serikat akibat jeratan utang dan tingginya biaya operasional.

Meskipun terjadi tekanan biaya, Ryanair membukukan lonjakan laba setelah pajak sebesar 40 persen menjadi hampir 2,3 miliar euro atau setara 2,7 miliar dollar AS untuk tahun buku yang berakhir Maret 2026.

Volume penumpang maskapai juga mengalami pertumbuhan sebesar 4 persen hingga mencapai total 208,4 million orang.

Namun, pendapatan total perusahaan menunjukkan penurunan sebesar 11 persen menjadi 15,54 miliar euro.

Terkait kebijakan tarif, Ryanair memproyeksikan harga tiket pesawat pada musim panas ini cenderung stagnan akibat ketidakpastian ekonomi global dan kecenderungan konsumen melakukan pemesanan mendadak.

Analis dari Citi mengonfirmasi bahwa permintaan perjalanan musim panas tetap kuat, namun maskapai harus menyesuaikan harga demi menjaga tingkat keterisian pesawat.

“Permintaan perjalanan musim panas 2026 tetap kuat, tetapi pemesanan dilakukan lebih mendekati hari keberangkatan dan harga mulai melunak dalam beberapa pekan terakhir akibat ketidakpastian ekonomi terkait harga bahan bakar, inflasi, dan kekhawatiran krisis avtur,” tulis analis Citi.

Hingga saat ini, manajemen Ryanair menegaskan belum memiliki rencana untuk memberlakukan biaya tambahan bahan bakar kepada para penumpang.

Di sisi lain, situasi ketidakpastian krisis avtur di Inggris dan Eropa mulai mengubah preferensi pelancong musim panas untuk beralih menggunakan moda transportasi kereta api atau memilih rute penerbangan jarak pendek dengan destinasi utama kawasan Eropa Selatan.

Artikel terkait

Rekomendasi