Saham BBCA Melemah Akibat Tekanan Jual Investor Asing

Saham BBCA Melemah Akibat Tekanan Jual Investor Asing

Tren pelemahan melanda saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang tahun ini meskipun kinerja fundamental perseroan dilaporkan tetap solid. Dilansir dari Keuangan, pelemahan harga saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut dipicu oleh aksi jual investor asing serta peningkatan risk premium Indonesia pada perdagangan Selasa (2/6/2026).

Koreksi saham BBCA secara year to date (ytd) tercatat telah merosot sebesar 27,86 persen. Pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), harga saham berada di level Rp 5.825 per saham atau naik 2,19 persen dibandingkan hari sebelumnya, namun dalam sepekan terakhir posisinya masih terkoreksi 2,51 persen.

Porsi kepemilikan investor asing yang besar dan tingkat likuiditas yang tinggi membuat saham BBCA menjadi aset yang paling terdampak saat terjadi penarikan dana global. Faktor eksternal tersebut dinilai lebih mendominasi pergerakan saham saat ini dibandingkan dengan faktor kinerja internal perusahaan.

"BBCA merupakan salah satu saham dengan porsi kepemilikan asing yang besar dan sangat likuid, sehingga ketika terjadi foreign outflow, saham ini biasanya menjadi salah satu yang paling terdampak," ujar Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.

Tekanan jual dari investor asing pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar juga sempat membuat harga saham BBCA merosot lebih dari 9 persen ke kisaran Rp 5.850 per saham sepanjang April 2026. Selain itu, sentimen sektor perbankan nasional ikut tertahan setelah lembaga pemeringkat Moody's merevisi outlook lima bank besar, termasuk BCA, menjadi negatif menyusul penurunan outlook sovereign Indonesia.

"Jadi tekanan pada BBCA bukan karena fundamentalnya memburuk, melainkan kombinasi foreign outflow, kenaikan risk premium Indonesia, dan penyesuaian valuasi sektor perbankan oleh pasar," jelas Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.

Secara fundamental, pembukuan laba bersih BCA pada kuartal I 2026 sebenarnya masih tumbuh positif sebesar 3,8 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp 14,7 triliun. Penyaluran kredit perusahaan turut meningkat 5,6 persen yoy menjadi Rp 994 triliun, diiringi kekuatan dana murah atau current account saving account (CASA) yang berada di posisi Rp 1.089 triliun.

"Fundamental BBCA masih sangat sehat, tetapi pertumbuhan laba belum terlalu agresif sehingga belum mampu menjadi katalis utama di tengah sentimen pasar yang masih berhati-hati," kata Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.

Volatilitas pergerakan saham dalam jangka pendek diproyeksikan masih akan berlanjut dan cenderung dipengaruhi oleh faktor teknikal. Pemulihan harga saham secara menyeluruh sangat bergantung pada momentum kembalinya aliran dana dari luar negeri ke pasar modal domestik.

"Target terdekat BBCA berada di area Rp 6.500 hingga Rp 6.700. Jika sentimen membaik dan dana asing kembali masuk, ada peluang menuju level Rp 7.700 per saham," ujarnya Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.

Rekomendasi akumulasi secara bertahap atau buy on weakness diberikan bagi investor yang berorientasi jangka panjang dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental yang dimiliki perseroan. Sebaliknya, para pelaku perdagangan jangka pendek disarankan untuk mengamati sinyal pembalikan tren secara lebih jelas.

"Risiko utamanya adalah jika foreign outflow masih berlanjut dan saham gagal bertahan di area support bawah," tutup Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama.

Artikel terkait

Rekomendasi