Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berhasil menguat di tengah kelesuan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot pada perdagangan Senin (18/5/2026).
Data RTI mencatat saham emiten perbankan swasta terbesar ini ditutup naik 0,41 persen ke level Rp6.125 per saham setelah sempat terkoreksi ke zona merah pada pembukaan perdagangan awal pekan.
Pergerakan saham BBCA berada pada rentang Rp5.900 hingga Rp6.125 per saham dengan nilai transaksi harian mencapai Rp1,4 triliun dan volume perdagangan sebesar 2.332.490 saham.
Sebaliknya, laju IHSG justru terpuruk dengan koreksi sebesar 1,85 persen ke level 6.599,24 akibat penurunan seluruh sektor saham yang dipimpin oleh sektor transportasi sebesar 6,2 persen.
Di tengah pergerakan pasar tersebut, perseroan berencana melakukan terobosan baru dengan membagikan dividen interim setiap tiga bulan sekali mulai tahun buku 2026.
Kebijakan strategis ini disampaikan oleh Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim yang menyebutkan bahwa pembagian dividen interim kuartalan ini akan dimulai pada kuartal ketiga tahun ini.
"Biasanya kita lakukan di bulan Desember sekali setahun. Tahun ini, mulai tahun ini kita akan lakukan setiap kuartalan. Akan mulai dari kuartal kedua, kuartal ketiga, dan kuartal keempat," kata Vera Eve Lim, Direktur Keuangan BCA.
Meskipun jumlah nominal per kuartal belum ditetapkan, perseroan mencatat kenaikan rasio pembagian dividen tahun ini menjadi 72 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 67,4 persen.
"Jadi ada tiga kali deviden interim. Namun itu belum kita putuskan, tapi itu adalah sesuai rencana kita, rencana kerja juga untuk tahun ini," ujar Vera Eve Lim, Direktur Keuangan BCA.
Rencana perubahan skema pembagian keuntungan berkala ini diharapkan manajemen dapat memberikan dampak positif langsung terhadap likuiditas para pemegang saham emiten berkode BBCA tersebut.
"Perseroan memastikan rencana ini juga menyesuaikan dengan kondisi keuangan dan telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Komisaris," ujar Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA.
Kebijakan dividen didukung oleh capaian finansial triwulan pertama setelah emiten membukukan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun berkat pertumbuhan penyaluran kredit produktif dan UMKM.
Pertumbuhan CASA sebesar 11,2 persen secara tahunan turut memperkokoh struktur pendanaan domestik perseroan dalam menghadapi dinamika pasar keuangan global yang bergerak fluktuatif.
"Mengawali 2026, kinerja BCA dipengaruhi momentum Ramadan dan Idu Fitri yang mendukung kinerja kredit. Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden," ujar Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA.
Hingga akhir Maret 2026, total dana pihak ketiga BCA tercatat mencapai Rp1.292,4 triliun dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan yang tetap terjaga aman di level 1,8 persen.