Saham BBRI Berpotensi Menguat ke Level Resistance Senin Ini

Saham BBRI Berpotensi Menguat ke Level Resistance Senin Ini

CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berpotensi menguat menuju level resistance pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Prediksi ini muncul setelah saham emiten perbankan pelat merah tersebut mengalami tren penurunan dalam beberapa periode terakhir di Bursa Efek Indonesia.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa saham BBRI memiliki area support yang kuat di rentang harga Rp 3.060 sampai Rp 3.090 per lembar saham. Pergerakan instrumen investasi ini diharapkan mampu berbalik arah dari tekanan jual yang terjadi sebelumnya.

"BBRI memiliki support di 3.060-3.090. Target dekat di 3.180-3.240," tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam catatan perdagangannya.

Sebelum proyeksi ini dirilis, saham BBRI ditutup melemah sebesar 3,11 persen ke level Rp 3.120 pada perdagangan hari Rabu, 13 Mei 2026. Penurunan tersebut memperpanjang tren negatif saham BBRI yang merosot sebesar 1,27 persen dalam sepekan, melemah 7,9 persen dalam sebulan, serta mencatatkan penurunan hingga 14,7 persen selama periode year to date (ytd).

Data dari Stockbit menunjukkan aktivitas pelepasan saham oleh investor asing turut memengaruhi performa negatif pada hari Rabu tersebut. Nilai aksi jual bersih atau net sell investor luar negeri tercatat mencapai Rp 273,5 billion.

Tekanan jual pada saham BBRI sebenarnya sudah terdeteksi sejak pertengahan pekan. Pada sesi I perdagangan Rabu pagi, nilai saham BBRI sempat merosot 2,48 persen ke level Rp 3.140 per lembar di tengah koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 1,40 persen.

Hingga pukul 09.56 WIB di hari yang sama, volume perdagangan saham BBRI menyentuh angka 53,12 juta lembar dengan frekuensi transaksi sebanyak 19.500 kali. Berdasarkan laporan Investor Daily, nilai transaksi emiten perbankan tersebut berada di angka Rp 177 miliar, sedangkan data Stockbit Sekuritas mencatat net sell sementara sebesar Rp 75,2 miliar saat perdagangan masih berlangsung.

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa pergerakan pasar modal saat itu sedang tertekan oleh sentimen global dan domestik. Sentimen ini meliputi pengumuman rebalancing indeks MSCI periode Mei 2026 serta lonjakan Indeks Harga Konsumen Amerika Serikat sebesar 3,8 persen secara tahunan pada April 2026 yang dilaporkan oleh Bureau of Labor Statistics.

"IHSG diproyeksikan akan bergerak terbatas cenderung melemah dengan level resistance terdekat pada 6.960-7.000 dan support pada 6.760-6.780," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya pada Rabu (13/5/2026).

Kondisi pasar juga diperberat oleh pelemahan nilai tukar Rupiah ke level terendah baru serta langkah antisipasi terhadap penurunan bobot saham Indonesia oleh MSCI Inc. Pelaku pasar saat ini dilaporkan mulai mengalihkan fokus perhatian mereka pada agenda evaluasi pasar yang akan datang.

Menurut analisis Stockbit Sekuritas, pelaku pasar kini mencermati MSCI Market Accessibility Review pada Juni 2026 sebagai faktor penggerak pasar yang lebih signifikan untuk menentukan kebijakan investasi di masa depan.

"Dan penegasan atau sinyal lebih lanjut bahwa risiko downgrade Indonesia ke frontier market sudah tidak menjadi ancaman," papar Stockbit Sekuritas dalam ulasannya.

Seluruh perubahan indeks global tersebut dijadwalkan akan mulai diimplementasikan secara resmi pada penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026 mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi