Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks dilanda aksi jual oleh investor asing dalam perdagangan sepekan terakhir. Penurunan harga saham kelompok bank raksasa ini berjalan beriringan dengan aksi net sell asing tersebut, seperti dikutip dari Keuangan.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat aksi net sell paling besar yang mencapai Rp 1,01 triliun dalam sepekan. Kondisi ini membuat harga saham BBCA terkoreksi sebesar 3,28 persen menjadi Rp 5.900.
Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan net sell senilai Rp 407,37 miliar dan menempatkan harga sahamnya di posisi 3.050. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatat net sell sebesar Rp 112,4 miar dengan harga saat ini berada di level Rp 4.120.
Penjualan bersih oleh investor asing yang paling minim menimpa saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yaitu sebesar Rp 9,69 miliar. Koreksi tersebut membuat harga saham BBNI ikut turun menjadi Rp 3.780.
Tekanan pada sektor perbankan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate pekan ini. Langkah bank sentral tersebut membuat sejumlah ekonom mengkhawatirkan pertumbuhan kinerja sektor perbankan ke depan.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai bahwa kebijakan penaikan BI Rate memberikan sentimen campuran terhadap pergerakan saham big banks untuk jangka pendek.
Menurut Abdul Azis Setyo Wibowo, pengumuman BI Rate berpotensi meningkatkan volatilitas saham big banks. Namun untuk jangka menengah, pergerakannya akan lebih dipengaruhi oleh kondisi fundamental perbankan domestik.
"Dalam jangka menengah, pergerakan saham perbankan masih akan dipengaruhi oleh kondisi likuiditas, pertumbuhan kredit, serta arah suku bunga global dan nilai tukar rupiah," kata Azis.
Kenaikan suku bunga acuan ini juga disebut berpotensi mengerek biaya dana atau cost of fund (COF) perbankan. Dampak lanjutannya dapat menggerus pendapatan margin bank, terutama jika perebutan pendanaan di pasar kian ketat.
Terdapat kekhawatiran bahwa kenaikan BI Rate akan mendorong perbankan untuk turut menaikkan suku bunga kredit mereka. Kebijakan internal bank ini berisiko membuat pertumbuhan penyaluran kredit melandai pada masa mendatang.
Kendati demikian, dua dampak negatif tersebut diprediksi belum akan terlalu terasa dalam jangka pendek. Abdul Azis Setyo Wibowo menyebutkan bahwa kondisi permodalan serta kualitas aset perbankan di dalam negeri saat ini masih cukup solid.
Prospek saham big banks ke depan akan sangat bergantung pada respons dan strategi perbankan dalam menghadapi kenaikan BI Rate. Jika manajemen bank mampu menerapkan strategi yang tepat, saham sektor ini berpeluang untuk kembali bangkit.