Saham Chip Tekan S&P 500 dan Nasdaq pada Pembukaan Wall Street

Saham Chip Tekan S&P 500 dan Nasdaq pada Pembukaan Wall Street

Indeks S&P 500 dan Nasdaq dibuka melemah pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Pergerakan ini tertekan oleh aksi jual saham-saham chip berkapitalisasi besar serta kekhawatiran inflasi yang masih bertahan di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Dikutip dari Investasi, indeks Dow Jones Industrial Average justru mencatat kenaikan tipis sebesar 10,4 poin atau 0,02% ke level 49.696,53 saat bursa dibuka. Sebaliknya, S&P 500 turun 27,3 poin atau 0,37% ke 7.375,75, dan Nasdaq Composite melemah 167,2 poin atau 0,64% ke posisi 25.923,486.

Saham Nvidia merosot sekitar 1% sebelum pasar dibuka dan berada dalam tren penurunan selama tiga hari berturut-turut. Tekanan tersebut terjadi seiring aksi ambil untung pada saham semikonduktor, yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli pasar saham AS ke level tertinggi tahun ini.

Saham-saham chip memori dan penyimpanan data juga ikut tertekan setelah sempat reli dalam beberapa pekan terakhir. Micron Technology turun 2,4%, Seagate Technology melemah 3,2%, dan Western Digital terkoreksi hingga 3,6%.

Laju Wall Street sebelumnya terhenti akibat aksi jual di pasar obligasi global yang memicu kekhawatiran pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral utama. Risiko inflasi ini meningkat menyusul lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Harga minyak Brent dilaporkan turun 1,4%, namun posisinya masih bertahan di atas US$ 110 per barel. Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut penundaan rencana serangan militer ke Iran sembari membuka peluang untuk negosiasi.

Pada pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun tipis ke level 4,6213%. Sebelumnya, angka ini sempat menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025.

"Kami masih berada dalam kondisi makro yang kurang ideal bagi ekuitas," ujar Ipek Ozkardeskaya, analis senior Swissquote Bank.

Menurut Ipek Ozkardeskaya, pelaku pasar saat ini kembali memfokuskan perhatian pada risiko makroekonomi dan geopolitik. Hal ini terjadi setelah harga saham sebelumnya sudah banyak mencerminkan ekspektasi positif dari laporan keuangan perusahaan.

"Earnings yang lebih baik dari perkiraan sudah banyak terdiskon. Kini pasar kembali melihat risiko makro, dan itu menekan saham teknologi," tambah Ipek Ozkardeskaya.

Kinerja Sektor Teknologi dan Laporan Keuangan

Sektor teknologi, terutama Nasdaq yang berbasis teknologi, menjadi penekan utama Wall Street pada perdagangan sebelumnya. Kenaikan imbal hasil obligasi cenderung menekan saham-saham growth karena valuasinya sangat bergantung pada proyeksi laba masa depan.

Saham Akamai Technologies turun 3,7% setelah mengumumkan rencana penerbitan obligasi konvertibel senilai US$ 2,6 miIiar. Namun, beberapa saham perangkat lunak justru mencatat penguatan, seperti Workday yang naik 2,4%, Atlassian 3,5%, dan Intuit 2,2%. Sementara itu, Zscaler dan ServiceNow masing-masing naik 2,9% dan 5,6%.

Kini investor menantikan rilis risalah pertemuan terakhir Federal Reserve untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter ke depan. Pasar memproyeksikan adanya peluang lebih dari 40% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Januari mendatang berdasarkan data CME FedWatch.

Dari sisi korporasi, perhatian pasar tertuju pada laporan keuangan Nvidia dan Walmart. Laporan Nvidia dinilai penting untuk melihat apakah permintaan berbasis kecerdasan buatan masih mampu menopang valuasi tinggi sektor semikonduktor, sedangkan data Walmart akan menggambarkan kondisi konsumsi rumah tangga AS di tengah tekanan inflasi.

Artikel terkait

Rekomendasi