Saham Konglomerat Seret IHSG Jatuh Hampir Lima Persen

Saham Konglomerat Seret IHSG Jatuh Hampir Lima Persen

Aksi jual masif pada sejumlah saham emiten berkapitalisasi pasar besar menyeret Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG jatuh sebesar 4,94 persen ke level 5.889,48 pada penutupan sesi I perdagangan Rabu (3/6/2026).

Dilansir dari CNBC Indonesia, pelemahan indeks saham domestik ini bahkan sempat menyentuh angka 5,13 persen di tengah kemerosotan nilai tukar rupiah yang menembus level terendah baru.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 752 saham bergerak melemah, sedangkan 169 saham berjalan stagnan dan hanya 38 saham yang mampu menguat. Transaksi pasar tercatat sebanyak 1,76 juta kali dengan volume perdagangan mencapai 23,51 miliar lembar saham senilai Rp14,86 triliun.

Pelemahan indeks utamanya didorong oleh saham-saham konglomerat yang pada hari sebelumnya menjadi penggerak pasar, seperti Amman Mineral (AMMN) yang anjlok hingga batas auto reject bawah sebesar 14,91 persen dan berkontribusi minus 17,62 poin bagi IHSG.

Dua emiten milik Prajogo Pangestu, yaitu Barito Renewables Energy (BREN) dan Barito Pacific (BRPT), turut menyumbang penurunan total sebesar minus 20,75 poin. Beban indeks kian bertambah akibat koreksi saham perbankan besar seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang masing-masing menyumbang minus 16,39 poin dan minus 15,68 poin.

Tekanan di pasar modal dipicu oleh keluarnya dana asing yang deras dari bursa domestik seiring pemberlakuan penyesuaian bobot indeks atau rebalancing MSCI per 1 Juni 2026. Padahal pada perdagangan hari sebelumnya, investor domestik sempat menahan laju penurunan dengan mencatatkan pembelian saat investor asing melakukan penjualan bersih senilai Rp1,39 triliun, sehingga IHSG ditutup menguat 1,1 persen.

Mengenai situasi ini, Co Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menilai masih terdapat potensi tekanan koreksi lanjutan, terutama bagi saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index serta MSCI Small Cap Index.

"Pasca rebalancing MSCI ini bisa jadi bottom dari penurunan IHSG dan berpeluang kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan di masa depan," kata Hans Kwee.

Ia menambahkan bahwa langkah reformasi pasar modal yang dijalankan oleh Otoritas Jasa Keuangan bersama Self-Regulatory Organization telah berhasil meningkatkan serta memperkuat transparansi, kredibilitas, dan integrasi pasar modal Indonesia. Upaya tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan bagi investor lokal maupun asing.

Di sisi lain, tekanan eksternal juga datang dari pasar valuta asing di mana nilai tukar rupiah melemah 0,4 persen ke posisi Rp17.925 per dolar Amerika Serikat berdasarkan data Refinitiv pukul 11.00 WIB. Angka ini mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah baru bagi mata uang garuda yang kini semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Artikel terkait

Rekomendasi