Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big bank di Bursa Efek Indonesia kompak mencatatkan penguatan harga pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026).
Lonjakan ini terjadi setelah tekanan jual terkait penyesuaian bobot portofolio atau rebalancing indeks MSCI yang efektif berlaku sejak 1 Juni 2026 resmi berakhir, seperti dilansir dari Keuangan.
Data perdagangan menunjukkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,19 persen ke level Rp 5.825 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menguat 3,05 persen ke posisi Rp 3.040 per saham.
Selanjutnya, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) meningkat 2,21 persen ke level Rp 4.170, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 1,62 persen menuju Rp 3.760 per saham.
Meskipun demikian, performa mingguan emiten perbankan ini masih bervariasi karena BBCA melemah 2,51 persen, BBNI turun 2,08 persen, dan BBRI terkoreksi 0,98 persen dalam sepekan terakhir.
Sebaliknya, saham BMRI justru bergerak anomali dengan mempertahankan pertumbuhan sebesar 0,97 persen pada periode mingguan yang sama.
Meredanya tekanan jual setelah momentum penyesuaian indeks internasional tersebut memicu terjadinya technical rebound pada sektor keuangan.
"Setelah momentum rebalancing MSCI selesai, tekanan jual mereda sehingga terjadi technical rebound. Selain itu, rata-rata saham perbankan juga sudah berada pada kondisi oversold," ujar Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta.
Stabilitas kebijakan moneter serta likuiditas domestik turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga saham sektor perbankan nasional.
Langkah Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan bunga penjaminan di level 3,50 persen serta intervensi valas oleh Bank Indonesia terbukti mampu menjaga psikologis pasar.
Faktor fundamental industri perbankan dalam negeri juga dinilai kokoh berkat pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang stabil disertai rasio NPL yang terkendali.
Penurunan harga saham BBCA sebelumnya dinilai telah membentuk valuasi yang lebih murah dan menarik bagi para investor jangka panjang.
Penurunan valuasi dari price to book value (PBV) sebesar 4 hingga 5 kali menjadi kisaran 2,8 kali didukung oleh rencana pembagian dividen interim tiga kali setahun mulai kuartal II-2026.
"BBCA tetap menjadi salah satu bank paling stabil di Indonesia. Untuk investor jangka panjang, saham ini masih menarik dikoleksi," ujar Nafan.
Nafan memberikan rekomendasi accumulative buy untuk saham BBCA dengan target harga terdekat pada level Rp 6.375 per lembar saham.
Untuk saham BBNI yang memiliki PBV sekitar 0,9 kali, ia merekomendasikan accumulative buy dengan target harga Rp 4.520 per saham dibantu katalis ekspansi kredit korporasi dan keberadaan Danantara.
Rekomendasi accumulative buy juga diberikan untuk BBRI dengan target Rp 3.670 per saham berkat target pertumbuhan kredit 2026 sebesar 7-9 persen dan integrasi ekosistem bersama Pegadaian serta PNM.
Sementara itu, saham BMRI direkomendasikan accumulative buy dengan target harga Rp 5.500 per saham didorong oleh pertumbuhan fee based income melalui aplikasi Livin' by Mandiri serta potensi konsolidasi aset Danantara.