Kinerja saham empat bank besar di Indonesia menunjukkan tren penurunan menjelang pengumuman hasil tinjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Penurunan harga ini terjadi seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap penyesuaian bobot portofolio investor asing.
Dilansir dari Keuangan, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan koreksi terdalam sebesar 6,87 persen ke level Rp 4.200 dalam sepekan terakhir. Pelemahan ini juga dibarengi dengan aksi jual bersih asing atau net sell mencapai Rp 1,41 triliun.
Kondisi serupa dialami PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang harganya menyusut 1,27 persen menjadi Rp 3.120, meskipun masih mencatat net buy sebesar Rp 120,83 miliar. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat ke Rp 6.100 namun tetap dibayangi aksi jual asing Rp 245,93 miliar.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su menjelaskan bahwa meskipun emiten perbankan utama bukan objek yang dikeluarkan dari MSCI, dampaknya tetap terasa secara agregat.
"Walaupun saham utama yang dikeluarkan dari MSCI adalah saham di sektor energi dan material, tapi pengurangan nilai agregat Indonesia akan mendorong asing untuk mengurangi porsi portofolionya di saham bank besar," kata Harry saat dihubungi, Jumat (15/5/2026).
Selain sentimen MSCI, tekanan pada sektor perbankan dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang telah menembus level Rp 17.500. Kondisi ini diprediksi akan memberatkan kinerja bank, terutama dengan adanya peningkatan provisi di kuartal I-2026.
Optimisme Fundamental dan Prospek Kuartal II
Meskipun terjadi volatilitas, Analis KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai fundamental saham big banks masih terjaga solid dan memprediksi kinerja yang lebih agresif pada kuartal II-2026.
"Ada optimisme terhadap kualitas aset big banks yang mulai stabil, potensi pertumbuhan kredit di 2H26, serta sentimen stimulus pemerintah yang bisa dorong tingkat konsumsi dan pembiayaan masyarakat," ucapnya.
Wafi merekomendasikan akumulasi bertahap mengingat valuasi saham saat ini sudah tergolong murah. Ia menyoroti BBRI karena kebangkitan segmen UMKM, BMRI dengan pendapatan stabil, serta BBNI yang memiliki valuasi terendah untuk dikoleksi.
Prediksi Pergerakan Harga Pekan Depan
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta berpendapat likuiditas tinggi akan menjaga dana asing tidak keluar sepenuhnya. Namun, ia tetap mewaspadai potensi volatilitas jangka pendek setelah pengumuman MSCI.
Nafan menyebutkan target harga atau take profit (TP) untuk sejumlah saham perbankan. BBCA diproyeksikan pada Rp 8.350, BBRI di Rp 3.670, BBNI pada Rp 4.520, dan BMRI di level Rp 5.650.
Volatilitas diperkirakan akan mulai mereda pada akhir Mei 2026 setelah pasar merespons sepenuhnya hasil rebalancing indeks global tersebut.