Saham Sektor Teknologi AS Anjlok Akibat Data Tenaga Kerja Kuat

Saham Sektor Teknologi AS Anjlok Akibat Data Tenaga Kerja Kuat

Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026) setelah dikejutkan oleh laporan pertumbuhan lapangan kerja yang melampaui ekspektasi. Gelombang aksi jual besar-besaran melanda sektor teknologi dan semikonduktor, hingga melenyapkan nilai pasar lebih dari 1 triliun dollar AS dalam sehari.

Dilansir dari CNBC Indonesia dan Kompas.com, indeks Nasdaq Composite merosot 4,18 persen ke level 25.709,43, yang mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2025. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 2,64 persen ke posisi 7.383,74, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,35 persen atau 695,15 poin ke level 50.866,78.

Kejatuhan pasar dipicu oleh laporan Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan penambahan 172.000 lapangan kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) pada Mei 2026. Berdasarkan data dari Kabarbursa.com, angka tersebut jauh di atas perkiraan para ekonom yang memprediksi tambahan sekitar 80.000 pekerjaan.

Kondisi pasar tenaga kerja yang tetap solid mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik di atas 4,5 persen dan tenor 30 tahun menembus 5 persen. Kenaikan yield ini memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkannya jika inflasi kembali meningkat.

Sektor semikonduktor menjadi area yang paling terpukul dengan jatuhnya iShares Semiconductor ETF sebesar 10 persen. Saham Marvell Technology jatuh lebih dari 16 persen, Micron Technology anjlok 13 persen, sedangkan Intel dan AMD masing-masing kehilangan sekitar 11 persen. Saham Broadcom menyusut hampir 8 persen, sementara Nvidia merosot lebih dari 6 persen.

Di tengah meredanya spekulasi, harga aset kripto Bitcoin ikut terseret hingga jatuh di bawah level 60.000 dollar AS untuk pertama kalinya sejak akhir 2024. Sebaliknya, aliran dana investor dialihkan ke sektor defensif, sehingga saham Colgate-Palmolive naik 4 persen, Coca-Cola menguat 3 persen, dan Johnson & Johnson bertambah 2 persen.

Tekanan jual juga diperkirakan terjadi karena investor melakukan aksi ambil untung dan mempersiapkan dana menjelang penawaran saham perdana (IPO) SpaceX milik Elon Musk pada pekan depan.

"Investor sebenarnya sudah lama menahan jari mereka di tombol jual," kata Kepala Strategi Pasar Nationwide, Mark Hackett kepada CNBC International.

Pihaknya menambahkan bahwa momentum pelepasan aset teknologi ini dimanfaatkan untuk mengamankan keuntungan dari reli yang sudah berlangsung lama.

"Orang yang ingin membeli IPO SpaceX pekan depan kemungkinan besar tidak akan menjual saham Procter & Gamble. Mereka akan melepas saham AI, semikonduktor, saham momentum, atau teknologi secara umum," ujar Mark Hackett.

Persiapan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 di AS turut dinilai menjadi salah satu faktor penentu di balik lonjakan lapangan kerja di sektor rekreasi dan perhotelan yang bertambah hingga 70.000 posisi.

"Pasar tenaga kerja saat ini lebih kuat dibandingkan tahun lalu dan terlihat sangat solid, meskipun harga energi tinggi dan inflasi masih meningkat. Tidak ada indikasi bahwa pasar tenaga kerja membutuhkan dukungan tambahan," kata Kepala Ekonom PNC, Gus Faucher kepada CNBC.

Kondisi ekonomi AS secara keseluruhan dinilai masih menunjukkan ketahanan di luar dinamika pasar tenaga kerja.

"Data ketenagakerjaan yang tetap solid membuat The Fed tetap berada pada posisi yang sama, yaitu mengamati dan menunggu, dengan fokus utama pada inflasi," kata Kepala Strategi Ekonomi Morgan Stanley Wealth Management, Ellen Zentner.

Hingga saat ini, Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga acuan sepanjang tahun 2026 setelah melakukan pemotongan total 75 basis poin pada paruh kedua tahun lalu.

Artikel terkait

Rekomendasi