Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Rabu (3/6) setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi baru. Dikutip dari Investasi, penurunan indeks-indeks utama Wall Street dipicu oleh aksi ambil untung investor di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent hingga lebih dari 2%. Situasi memanas setelah serangan rudal Iran dilaporkan merusak bandara Kuwait dan militer AS melakukan operasi di sekitar Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi ini meningkatkan kecemasan pasar terhadap potensi gangguan pasokan global. Dampak lebih lanjut yang dikhawatirkan adalah munculnya tekanan inflasi baru yang dapat menahan laju ekonomi.
Berdasarkan data pasar pukul 10.03 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 278,51 poin atau 0,54% ke level 51.029,28. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 27,18 poin atau 0,36% ke posisi 7.582,48.
Pelemahan juga terjadi pada indeks Nasdaq Composite yang turun 134,41 poin atau 0,50% menjadi 26.959,49. Di sisi lain, indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 mencatat penurunan paling dalam hingga 1,3%.
Padahal pada sesi sebelumnya, S&P 500 berhasil menembus level psikologis 7.600 untuk pertama kalinya. Ketiga indeks utama Wall Street saat itu kompak ditutup pada rekor tertinggi yang disokong oleh optimisme belanja kecerdasan buatan (AI).
Sektor Teknologi Memimpin Pelemahan
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, empat sektor berada di zona merah dengan sektor teknologi memimpin penurunan. Sektor perangkat lunak merosot 3,1% setelah sebelumnya sempat menguat tajam.
Saham-saham teknologi raksasa seperti Datadog, Palo Alto Networks, dan IBM mengalami penurunan berkisar antara 6,7% hingga 7,7%. Indeks semikonduktor Philadelphia juga melemah 0,7%, termasuk saham Broadcom yang turun 1,2% menjelang laporan keuangan.
Namun, saham Marvell Technology justru bergerak melawan arah dengan melonjak 2% hingga kapitalisasi pasarnya menyentuh US$ 250 miliar. Penguatan berlanjut setelah CEO Nvidia Jensen Huang menyebut perusahaan tersebut berpotensi menjadi raksasa bernilai US$ 1 triliun berikutnya.
Aksi Korporasi dan Gerak Saham Lain
Di sektor manajer aset alternatif, saham KKR, Blackstone, Blue Owl Capital, dan Ares Management anjlok antara 5,3% hingga 6,3%. Penurunan terjadi setelah Partners Group asal Swiss membatasi penarikan dana dari salah satu private equity senilai US$ 8,6 billion.
Sementara itu, saham GameStop melonjak 8,5% berkat laporan kenaikan pendapatan kuartalan dan rencana pembelian kembali saham senilai US$ 2 miliar. Kabar lain datang dari SpaceX milik Elon Musk yang berencana menetapkan harga IPO sebesar US$ 135 per saham untuk menghimpun dana hingga US$ 75 miliar.
Aktivitas Sektor Jasa dan Kebijakan The Fed
Data ekonomi terbaru menunjukkan aktivitas sektor jasa AS meningkat pada Mei karena perusahaan mempercepat pemesanan barang untuk mengantisipasi kelangkaan pasokan. Data ini dirilis menjelang laporan nonfarm payrolls yang akan diumumkan pada Jumat (5/6).
Laporan ketenagakerjaan tersebut diperkirakan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Saat ini pasar memproyeksikan Bank Sentral AS akan mempertahankan suku bunga, meskipun peluang kenaikan 25 basis poin mulai meningkat.
"Kami tidak melihat koreksi besar di pasar saham AS kecuali terdapat bukti kuat bahwa situasi di Timur Tengah benar-benar mendorong lonjakan inflasi seperti yang terjadi pada 2022," ujar Chief Investment Officer Social Discovery Ventures, Alexander Lis.