Manajemen Samsung Electronics menawarkan perundingan tanpa syarat kepada serikat pekerja pada Jumat (15/5/2026) guna menghindari ancaman mogok kerja massal yang dijadwalkan mulai 21 Mei mendatang. Langkah darurat ini diambil setelah mediasi pemerintah gagal mencapai kesepakatan terkait tuntutan bonus berbasis kinerja di tengah lonjakan permintaan cip kecerdasan buatan (AI).
Aksi industri ini melibatkan lebih dari 50.000 pekerja yang menuntut alokasi 15 persen dari laba operasional sebagai bonus dan penghapusan batas pembayaran tahunan. Tekanan meningkat bagi Samsung karena pesaingnya, SK hynix, telah lebih dulu menghapus batasan bonus serupa yang memicu kecemburuan di kalangan karyawan raksasa teknologi tersebut.
Perwakilan serikat pekerja Samsung, Choi Seung-ho, mengonfirmasi kegagalan negosiasi awal yang dimediasi oleh Komisi Hubungan Perburuhan Nasional (NLRC).
"Buah dari era infrastruktur AI bukanlah hasil yang diciptakan oleh perusahaan tertentu saja ... buah itu lahir di atas fondasi yang dibangun bersama oleh seluruh rakyat selama setengah abad," tulis Kim Yong-beom, Kepala Staf Kepresidenan Bidang Kebijakan, melalui akun Facebook miliknya.
Pernyataan tersebut merespons perdebatan mengenai pembagian laba perusahaan yang sangat besar di era AI. Di sisi lain, Kamar Dagang Amerika di Korea (AmCham) memberikan peringatan keras mengenai dampak global dari ketidakstabilan operasional di Samsung.
"Gangguan produksi atau ketidakstabilan operasional yang signifikan di Samsung Electronics dapat memberikan tekanan lebih lanjut pada pasar semikonduktor memori global. Hal ini akan memperburuk hambatan dalam rantai pasokan, menyebabkan volatilitas harga, menciptakan ketidakpastian dalam pengadaan, dan mengguncang rantai pasokan dalam skala yang lebih luas," lapor Bloomberg mengutip pernyataan AmCham.
Meskipun Samsung telah mengajukan tawaran diskusi baru, serikat pekerja menegaskan posisi mereka tetap pada rencana awal untuk mogok selama 18 hari jika proposal detail tidak segera diberikan. Pemerintah Korea Selatan memperingatkan bahwa penghentian produksi dapat memukul ekspor dan pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan.