SBY Soroti Pelemahan Rupiah dan Tekankan Pentingnya Kepercayaan Publik

SBY Soroti Pelemahan Rupiah dan Tekankan Pentingnya Kepercayaan Publik

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini sedang menghadapi tekanan berat dari berbagai arah, termasuk melemahnya nilai tukar mata uang serta rontoknya indeks saham. Seperti dikutip dari Suara, nilai tukar rupiah pada hari Kamis sudah menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS yang menjadi catatan paling buruk dalam sejarah republik, sedangkan IHSG terkoreksi hampir 2 persen ke level 5.826.

Sejumlah analis menilai bahwa kemerosotan nilai mata uang dan indeks saham ini salah satunya dipicu oleh memudarnya tingkat kepercayaan investor serta masyarakat terhadap kredibilitas kebijakan yang diambil pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Di tengah situasi tersebut, Presiden Ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memaparkan krusialnya mengelola kepercayaan publik di masa ketidakpastian global.

Menurut SBY, kondisi dunia sekarang sedang berada dalam fase ketidakpastian yang dipenuhi beragam tantangan besar, seperti ekskalasi rivalitas geopolitik, benturan dan konflik bersenjata di sejumlah kawasan, hingga disrupsi pada rantai pasok global.

"Kepemimpinan yang kuat adalah tentang menjaga kepercayaan publik dan menciptakan peluang di tengah berbagai disrupsi," kata SBY pada The 2026 Asia Grassroots Forum by Amartha di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan rekam jejaknya mengemban amanah memimpin Indonesia melewati masa-masa kritis dan fase transisi, termasuk saat menanggulangi dampak krisis Asia 1997-1998, bencana tsunami Aceh 2004, hingga guncangan krisis finansial global 2008, SBY menjabarkan beberapa prinsip kepemimpinan yang relevan.

SBY menerangkan bahwa seorang pemimpin wajib mempertahankan ketenangan saat berada di situasi pelik karena sikap panik justru berpotensi menggerus kekuatan institusi negara.

"Ketakutan menyebar dengan cepat pada masa-masa sulit. Kepanikan melemahkan institusi. Seorang pemimpin harus tetap tenang, jujur dan memiliki arah yang jelas," ujarnya.

Langkah strategis lain yang dinilai penting adalah kecakapan pemimpin dalam mengombinasikan tindakan pragmatis dengan prinsip dasar. SBY menilai negara dituntut untuk bersikap adaptif serta realistis di tengah kompleksitas dunia tanpa melepaskan nilai-nilai fundamen.

SBY juga memberikan penekanan khusus pada kepemilikan visi jangka panjang bagi seorang pemimpin. Hal ini dikarenakan agenda besar seperti peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembenahan institusi, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengembangan inovasi mustahil diselesaikan dalam tempo singkat.

Prinsip inklusivitas dalam corak kepemimpinan turut menjadi poin penting agar buah dari pembangunan ekonomi dapat terdistribusi secara merata ke seluruh lapisan masyarakat.

"Pertumbuhan yang hanya dinikmati oleh sebagian kecil kelompok masyarakat pada akhirnya akan menimbulkan ketidakstabilan," katanya.

Kendati eskalasi tantangan global kian rumit, SBY menegaskan dirinya tetap menyimpan optimisme terhadap masa depan kawasan ASEAN dan Indonesia.

Sikap optimistis tersebut bersandar pada kepemilikan modal kuat di kawasan ASEAN, yang meliputi struktur populasi berusia muda, iklim wirausaha yang dinamis, akselerasi ekosistem digital, ketangguhan masyarakat, serta potensi sumber daya manusia yang melimpah.

SBY menambahkan bahwa titik kekuatan riil tersebut tidak sekadar berpusat di kawasan metropolitan atau korporasi skala besar, melainkan tersebar luas di wilayah pedesaan, komunitas lokal, pelaku usaha mikro, serta jutaan warga yang terus bekerja keras memelihara harapan di tengah ketidakpastian.

SBY meyakini seluruh aset sosial dan ekonomi tersebut bakal bertransformasi menjadi fundamen krusial bagi ASEAN dan Indonesia dalam mengarungi dinamika tantangan global ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi