Sektor transportasi dan pergudangan menghadapi ancaman perlambatan pertumbuhan pada kuartal II/2026 akibat lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan avtur. Kenaikan biaya energi ini menekan margin keuntungan para pelaku usaha di industri logistik serta distribusi nasional.
Dilansir dari Ekonomi, sektor ini sebenarnya mencatatkan performa positif sebesar 8,04 persen secara tahunan pada kuartal I/2026. Capaian tersebut menyumbang 0,38 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen.
Peningkatan aktivitas masyarakat selama periode libur nasional dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) menjadi motor utama pertumbuhan tersebut. BPS melaporkan jumlah penumpang pesawat domestik mencapai 5,62 juta orang pada Maret 2026, melonjak 37,60 persen secara bulanan.
Sektor angkutan laut juga menunjukkan penguatan signifikan dengan total 3,12 juta penumpang. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 51,82 persen dibandingkan bulan sebelumnya atau tumbuh 26,72 persen secara tahunan.
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa transportasi dan pergudangan merupakan sektor yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi. Hal ini dikarenakan bahan bakar menjadi komponen paling dominan dalam biaya operasional perusahaan.
"Ketergantungan transportasi darat terhadap produk kilang mencapai 38,4% dari total input antara, disusul angkutan udara 34,2%, angkutan laut 22,7%, dan angkutan kereta 22,0%," ujarnya.
Menurut Josua, efek kenaikan harga energi pada awal tahun masih bisa diredam oleh tingginya mobilitas selama masa Lebaran. Namun, tekanan ekonomi diprediksi akan mulai terasa lebih berat memasuki kuartal II dan semester II/2026.
"Sektor transportasi dan pergudangan dapat menghadapi tekanan margin jika kenaikan biaya tidak bisa sepenuhnya diteruskan ke konsumen," katanya.
Ia juga menyoroti ketegangan geopolitik global yang turut membebani sektor ini. Gangguan pada rantai pasok dunia memicu kenaikan biaya pengiriman, premi asuransi, hingga ongkos distribusi secara menyeluruh.
Lonjakan Harga Avtur Tekan Industri Penerbangan
Kondisi paling krusial terjadi pada industri penerbangan setelah Pertamina menaikkan harga avtur per 1 Mei 2026. Di Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur kini menembus Rp27.357,54 per liter, melonjak 16,16 persen dibandingkan April 2026.
Jika ditarik lebih jauh ke Maret 2026, kenaikan harga bahan bakar pesawat ini bahkan menyentuh angka 100,32 persen. Harga tertinggi dilaporkan terjadi di Bandara Pattimura yang mencapai Rp29.438,85 per liter, disusul Denpasar sebesar Rp29.149,47 per liter.
Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI), Alvin Lie, menilai tren penerbangan domestik saat ini masih berada dalam fase pelemahan. Kondisi industri belum sepenuhnya pulih jika dibandingkan dengan periode sebelum pandemi.
"Iya perhatikan untuk penerbangan domestik ini memang masih sangat jauh dari [realisasi] 2019," ujarnya.
Alvin menambahkan bahwa mahalnya harga avtur memaksa maskapai menaikkan tarif tiket yang berdampak pada penurunan jumlah penumpang. Meskipun harga tiket melonjak, pendapatan maskapai tetap tertekan karena melemahnya daya beli masyarakat.
"Karena daya beli masyarakat juga melemah," katanya.
Dampaknya, banyak maskapai mulai memangkas frekuensi jadwal penerbangan. Sejak awal April 2026, tercatat ada sekitar 117 rute domestik dan 615 penerbangan yang mengalami pengurangan frekuensi atau penghentian operasional sementara.
Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, menyatakan bahwa pemulihan industri menuju performa tahun 2019 kini semakin terhambat. Faktor utama penghambatnya adalah konflik di Iran serta kenaikan harga avtur yang sangat tajam.
"Recovery ke kinerja 2019 menjadi terlambat daripada yang diproyeksikan tahun lalu sebelum pecah perang di Iran dan kenaikan harga avtur yang sangat tinggi," ujarnya.
Merespons situasi ini, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F Laisa, menyatakan pemerintah tengah memantau dampak ekonomi bagi industri. Langkah strategis akan diambil setelah berdiskusi dengan para pemangku kepentingan terkait.
"Kami akan bahas bersama untuk solusi yang terbaik," ujarnya.
Pergeseran Preferensi ke Transportasi Laut dan Darat
Di tengah krisis industri udara, moda transportasi laut justru mendapatkan momentum positif. Pengamat Maritim, Marcellus Hakeng Jayawibawa, melihat adanya perubahan pola pikir masyarakat dalam memilih sarana transportasi.
"Sebelum pandemi, orang cenderung berpikir soal kecepatan, yang penting cepat sampai, sehingga pesawat jadi pilihan utama. Sekarang mulai berubah," ujarnya.
Kini, efisiensi biaya menjadi pertimbangan utama dibandingkan sekadar kecepatan waktu tempuh. Masyarakat mulai beralih ke kapal laut karena kapasitas yang besar dan akses yang dinilai lebih terjangkau di tengah kenaikan tarif tiket pesawat.
"Orientasinya bukan lagi ‘secepat mungkin’, tapi ‘seefisien mungkin’," katanya.
Sementara itu, sektor logistik darat juga mengalami dilema serupa akibat kenaikan harga BBM nonsubsidi. Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) mengungkapkan bahwa kenaikan BBM memicu lonjakan harga suku cadang, ban, hingga pelumas.
Namun, pengusaha truk sulit menaikkan tarif angkutan karena kondisi pasar yang sedang kelebihan pasokan armada. Tekanan ganda ini diprediksi akan terus menekan laju pertumbuhan sektor transportasi hingga akhir semester kedua 2026.
"Memang truk sudah over supply," ujar Aptrindo.