Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan signifikan lebih dari 4 persen hingga menyentuh level 6.400-an sejak pembukaan perdagangan pada Senin (18/5). Kejatuhan indeks domestik ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif dari penyesuaian indeks global, pelemahan bursa regional, kenaikan harga minyak, hingga terdepresiasinya nilai tukar rupiah.
Pelemahan indeks saham terjadi setelah adanya pengumuman penyesuaian konstituen saham Indonesia dalam indeks MSCI serta rencana FTSE Russell mengeluarkan saham berkategori high shareholding concentration (HSC). Selain faktor indeks tersebut, penurunan IHSG diperberat oleh melemahnya bursa saham di kawasan Asia.
Berdasarkan data RTI Business, beberapa bursa regional yang memerah antara lain Nikkei 225 Index turun 0,92 persen ke level 60.843,10, Hang Seng Index merosot 1,59 persen ke level 25.552,00, Shanghai Composite Index melemah 0,22 persen ke level 4.126,35, dan Straits Times Index terkoreksi 0,54 persen ke level 4.962,16.
Kondisi pasar modal ini turut dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak mentah dunia melewati angka US$ 100 per barel. Dari dalam negeri, tekanan terhadap pasar saham semakin diperparah oleh nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh level Rp 17.676 per dolar AS.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memberikan analisisnya mengenai situasi pasar modal saat ini kepada detikcom.
"Tidak hanya MSCI dan FTSE saja yang mempengaruhi IHSG hari ini, namun dari sisi pasar global dan regional Asia juga turut menekan pergerakan indeks," ungkap Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Herditya menambahkan bahwa kombinasi berbagai sentimen negatif ini memicu respons tersendiri bagi para pemodal di pasar domestik.
"Hal ini juga kembali meningkatkan kekhawatiran investor akan tekanan inflasi ke depannya serta perlambatan ekonomi global," pungkas Herditya Wicaksana.
Di sisi lain, situasi terkini di pasar modal Indonesia memaksa para pelaku pasar untuk meninjau ulang strategi penempatan dana mereka.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa menjelaskan kepada detikcom mengenai langkah antisipasi yang sedang diambil oleh para pemodal terkait perkembangan terbaru dari MSCI dan FTSE Russell.
"Pasar menilai kebijakan ini berpotensi memicu penyesuaian portofolio lanjutan dari investor asing maupun passive funds, terutama pada saham-saham dengan free float terbatas dan likuiditas yang kurang ideal," ujar Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Reydi menilai para pelaku pasar akan bersikap cermat dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam mereposisi aset-aset saham mereka di Indonesia.
"Umumnya proses rebalancing dilakukan bertahap dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung profil risiko, tujuan investasi dan likuiditas di pasar," pungkas Reydi Octa.