Akumulasi sentimen negatif makroekonomi dan peningkatan kehati-hatian institusional memicu tekanan jual masif yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 5 persen ke level 5.644,23 pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Dilansir dari CNBC Indonesia, penurunan tajam dari level penutupan hari sebelumnya di angka 5.941,07 ini mengonfirmasi secara teknikal bahwa indeks acuan domestik telah menyentuh posisi terendahnya sejak 1 Desember 2020.
Kemerosotan valuasi pasar secara agregat tersebut merefleksikan kondisi ketidakpastian ekstrem serupa era pandemi COVID-19, hingga melempar saham-saham berkapitalisasi besar jauh dari nilai wajarnya.
Koreksi agresif di bursa saham berjalan paralel dengan kejatuhan nilai tukar Rupiah yang menembus batas psikologis baru hingga bertengger di angka Rp18.000 per Dolar Amerika Serikat.
Pelemahan mata uang ini memicu kekhawatiran pelaku pasar atas potensi membengkaknya beban operasional korporasi, terutama bagi emiten dengan kewajiban valuta asing tinggi atau ketergantungan besar pada bahan baku impor.
Beban pengelolaan risiko para pengelola dana juga diperberat oleh dampak penurunan prospek Danantara Investment Management pada hari sebelumnya, di tengah absennya kepastian karena pemeringkatan S&P Global Ratings yang belum dirilis resmi.
Investor asing dilaporkan mempercepat mitigasi dengan mengurangi eksposur aset ekuitas secara besar-besaran untuk mengantisipasi publikasi Market Accessibility Review pada 19 Juni dan Classification Review pada 24 Juni oleh MSCI.
Kepanikan pasar berdampak destruktif pada emiten bermarket cap di atas Rp5 triliun, seperti PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang harganya anjlok ke level 1.635, setara dengan posisi pada 7 September 2005.
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) juga terpuruk ke level 4.210 yang mengembalikan valuasi ke posisi Maret 2009, disusul penurunan emiten besar lain seperti KLBF, BSDE, dan TOWR ke level harga periode 2010 hingga 2012.