Sentimen Negatif Bayangi Rupiah hingga Berpotensi Sentuh Rp 19.000

Sentimen Negatif Bayangi Rupiah hingga Berpotensi Sentuh Rp 19.000

Nilai tukar rupiah di pasar spot diproyeksikan melemah mendekati level psikologis Rp 19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan depan akibat berlanjutnya sentimen negatif. Tekanan eksternal dan domestik memicu kekhawatiran pasar setelah mata uang Garuda ditutup merosot 80 poin atau 0,46 persen ke level Rp 18.049 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026).

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa kerentanan mata uang domestik ini bukan merupakan fenomena baru. Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari menjaga surplus neraca perdagangan hingga memperluas kerja sama swap bilateral.

"Rapuhnya rupiah ini bukan peristiwa baru. Pemerintah sebelumnya mencoba mengatasi dengan memperbanyak suplai dollar di tanah air seperti surplus neraca perdagangan dan program penyimpanan DHE di dalam negeri, memperbaiki perizinan dan iklim usaha untuk menarik investor asing, memperbanyak kerja sama swap bilateral dan sebagainya," ujar Ariston saat dihubungi Kompas.com, Kamis.

Namun, rentetan strategi tersebut dinilai belum cukup kuat menahan depresiasi rupiah saat berhadapan dengan gejolak eksternal. Ariston menilai pasar domestik masih sangat rentan terhadap sentimen global yang memicu pelarian modal asing.

"Tapi ternyata kejadian baru-baru ini menunjukkan apa yang sudah dilakukan belum cukup. Rupiah mudah goyah dan tidak bisa meredam isu eksternal yang mendorong pelarian dollar AS ke luar negeri," paparnya.

Situasi ini sekaligus mencerminkan tingkat kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih. Pihak otoritas diharapkan mampu menyebarkan optimisme guna meredam sentimen negatif yang berkembang di pasar.

"Jadi investor luar masih belum percaya penuh dengan ekonomi Indonesia. Pemerintah tentunya harus memberikan rasa aman ke rakyatnya dan menebarkan ekspektasi positif mengenai perekonomian Indonesia. Kalau pemerintah ikut menyuarakan hal negatif, sentimen akan semakin negatif," pungkasnya.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama dari sisi eksternal karena mengancam pasokan minyak dunia. Lonjakan harga energi global kemudian mendorong pelaku pasar mengamankan aset mereka ke dalam bentuk dolar AS yang dianggap sebagai aset aman (safe haven).

"Pemicu utama adalah kisruh AS-Iran yang mengganggu suplai minyak sehingga harga minyak meroket dan membebani perekonomian global. Ini menimbulkan kekhawatiran di pasar yang mendorong pembelian aset dollar AS sebagai aset safe haven sehingga dollar AS menguat terhadap nilai tukar lainnya, termasuk rupiah," lanjut dia.

Selain faktor global, faktor internal seperti kekhawatiran atas pelebaran defisit APBN akibat program-program bermodal besar serta evaluasi MSCI turut menekan pasar modal dalam negeri.

"Dan kebetulan di dalam negeri, pasar khawatir terhadap defisit anggaran RI karena program-program yang memakan anggaran tinggi. Selain itu, peristiwa MSCI yang juga memicu asing keluar dari pasar," katanya.

Tekanan musiman pada periode Mei hingga Juni 2026 berupa repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri korporasi ikut memperparah kondisi ini. Sentimen pasar semakin terbebani menyusul munculnya kasus hukum dugaan korupsi program MBG yang melibatkan mantan pejabat negara.

Artikel terkait

Rekomendasi