Kawasan Depok dan Bogor mencatatkan harga sewa properti logistik tertinggi di wilayah Jabodetabek pada kuartal pertama 2026, melampaui area industri mapan lainnya. Berdasarkan data CBRE Indonesia yang dilansir dari Kompas pada Rabu (6/5/2026), fenomena ini dipicu oleh tingginya permintaan sektor e-commerce dan efisiensi distribusi ke pusat konsumsi.
Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia, Ivana Susilo, mengungkapkan bahwa sektor logistik modern saat ini tengah berada pada puncak performa. Kondisi ini tercermin dari tingkat hunian rata-rata di Jabodetabek yang telah menyentuh angka 97,9 persen.
"Fenomena ini bukan tanpa alasan fundamental, karena biaya sewa yang tinggi di wilayah tersebut merupakan konsekuensi logis dari kedekatan geografis dengan pusat konsumsi serta efisiensi konektivitas yang ditawarkan bagi operator logistik," ujar Ivana Susilo, Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia.
Data pasar menunjukkan harga sewa di Depok dan Bogor mencapai Rp95.000 per meter persegi setiap bulannya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Jakarta dan Bekasi yang berada pada level Rp89.000, serta kawasan Bekasi-Cikarang yang mencatat harga Rp78.000 per meter persegi.
Peningkatan harga ini didorong oleh keterbatasan lahan, di mana stok lahan kosong di seluruh wilayah logistik Jabodetabek hanya tersisa sekitar 7.200 meter persegi. Ivana memberikan penjelasan tambahan mengenai ketergantungan fasilitas modern pada sektor-sektor strategis seperti FMCG dan manufaktur.
"Fenomena ini memaksa investor untuk melirik lokasi sekunder yang menawarkan keunggulan infrastruktur serupa," cetus Ivana Susilo, Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia.
Penyempurnaan akses tol dan jalur menuju pelabuhan menjadi faktor penentu utama bagi para penyewa dalam memilih lokasi. Pertumbuhan sektor otomotif, khususnya kendaraan listrik, turut memperkuat posisi koridor timur meski wilayah selatan tetap unggul dalam nilai sewa.
"Konektivitas infrastruktur yang kian terintegrasi memperkuat posisi koridor timur sebagai gravitasi logistik, namun efisiensi jarak di selatan tetap menjadi yang termahal," lanjut Ivana Susilo, Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia.
Secara kumulatif, stok logistik modern di Jabodetabek saat ini mencapai 3,5 juta meter persegi. Meskipun Koridor Timur Jakarta mendominasi penyerapan lahan hingga 86 hektar, keterbatasan lahan di lokasi mapan terus memberikan tekanan kenaikan harga pada aset-aset inti.