Sido Muncul Batasi Penjualan ke Distributor demi Jaga Keseimbangan Stok

Sido Muncul Batasi Penjualan ke Distributor demi Jaga Keseimbangan Stok

PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 19 persen pada triwulan I 2026 akibat kebijakan penyesuaian persediaan di tingkat distributor. Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin (12/5/2026).

Pendapatan perseroan pada periode ini tercatat sebesar Rp 640,5 miliar, turun dari angka Rp 789,1 miliar pada tahun sebelumnya sebagaimana dilansir dari Money. Langkah pembatasan pasokan dilakukan perusahaan guna mengatasi penumpukan stok yang berlebihan di jaringan distribusi.

Kondisi stok yang tinggi tersebut dipicu oleh pola pembelian distributor menggunakan harga lama pada akhir 2025. Irwan Hidayat menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan mencegah inefisiensi operasional dan melindungi struktur harga produk di pasar luas.

"Penurunan bukan karena permintaan turun, melainkan kami melakukan inventory adjustment. Permintaan pasar di tingkat ritel tetap stabil, bahkan meningkat di sejumlah wilayah," ujar Irwan Hidayat, Direktur Utama Sido Muncul.

Manajemen melaporkan bahwa permintaan konsumen di Pulau Jawa dan Sumatera justru menunjukkan tren positif. Hal ini didukung oleh data penjualan dari distributor ke toko-toko ritel yang tidak mengalami penurunan signifikan meskipun laporan keuangan perusahaan terkoreksi.

"Mereka beli dengan harga lama, kemudian dijual murah di pasar. Padahal, harga resmi sudah naik, tapi mereka masih jual di bawah harga. Ini merusak pasar," jelas Irwan Hidayat, Direktur Utama Sido Muncul.

Sido Muncul tetap mempertahankan dominasi pasar melalui produk Tolak Angin yang menguasai 72 persen pangsa pasar obat herbal masuk angin. Selain itu, produk Kuku Bima memimpin kategori minuman energi dengan penguasaan pasar mencapai 51 persen.

"Laporan keuangan turun karena kami batasi penjualan ke distributor. Namun, permintaan konsumen tidak turun, bahkan di beberapa wilayah naik," kata Irwan Hidayat, Direktur Utama Sido Muncul.

Memasuki usia ke-75 pada November 2026, perusahaan menyiapkan ekspansi ke pasar mainstream di Arab Saudi dan China. Strategi ini dibarengi dengan peluncuran portal edukasi SidoHerbalPedia serta penguatan riset tanaman obat untuk berbagai penyakit kronis.

"Kami akan mendaftarkan produk di Arab Saudi untuk masuk pasar mainstream. Kalau bisa, kami juga akan masuk ke China," ujar Irwan Hidayat, Direktur Utama Sido Muncul.

Terkait kenaikan harga bahan baku kemasan akibat dinamika geopolitik, perusahaan menilai dampaknya masih dapat dikelola. Hal ini dikarenakan 90 persen bahan baku produksi bersumber dari dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap kurs mata uang asing relatif rendah.

"Kami bukan pabrik farmasi yang 100 persen impor. Bahan baku kami 90 persen lokal, jadi dampak kurs tidak terlalu besar," katanya Irwan Hidayat, Direktur Utama Sido Muncul.

Pihak manajemen tetap optimistis terhadap prospek industri herbal sepanjang tahun 2026 meskipun terdapat tantangan volatilitas global dan perubahan daya beli masyarakat. Efisiensi biaya produksi dan penguatan inovasi menjadi pilar utama perusahaan dalam menjaga profitabilitas.

“Optimisme ini ditopang oleh permintaan pasar yang tetap kuat, posisi merek yang dominan, serta penguatan inovasi dan ekspansi pasar,” tutur Irwan Hidayat, Direktur Utama Sido Muncul.

Artikel terkait

Rekomendasi