Tekanan ekonomi pada masyarakat kelas menengah bawah semakin terlihat jelas pada awal tahun 2026. Kondisi tersebut tercermin dari laju pertumbuhan simpanan rekening kecil di perbankan yang mengalami perlambatan, dipicu oleh tingginya kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Dikutip dari Keuangan, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan simpanan rekening dengan saldo di bawah Rp 100 juta pada Maret 2026 hanya tumbuh 1,8% secara tahunan. Laju ini menurun tajam dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026 yang mencapai 4,4%, serta periode yang sama tahun lalu sebesar 6,8%. Padahal, volume rekening pada kelompok tersebut masih mencatat kenaikan 7,1% secara tahunan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, Rizal Taufikurahman, menilai penurunan pertumbuhan simpanan menjadi indikator nyata bahwa daya beli masyarakat sedang tertekan. Menurut pengamatannya, banyak rumah tangga terpaksa mengambil dana tabungan untuk mencukupi kebutuhan harian.
Faktor pemicu fenomena ini meliputi kenaikan biaya hidup, tingginya harga pangan, pelemahan nilai tukar rupiah, beban cicilan, hingga pemulihan pendapatan yang belum merata.
"Fenomena makan tabungan terjadi pada kelompok masyarakat yang pendapatannya tidak tumbuh secepat kenaikan pengeluaran," ujar Rizal, Selasa (19/5/2026).Rizal memproyeksikan tekanan terhadap tabungan masyarakat masih berpotensi berlanjut sepanjang 2026 jika kurs rupiah terus melemah, suku bunga tetap tinggi, dan harga kebutuhan pokok bergejolak. Sebaliknya, situasi dapat membaik apabila inflasi pangan dapat dikendalikan, lapangan kerja baru tercipta, dan pendapatan masyarakat meningkat.
Melambatnya simpanan segmen menengah bawah juga dirasakan langsung oleh pelaku industri perbankan nasional. Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto, mengungkapkan bahwa simpanan ritel pada segmen tersebut hanya tumbuh sekitar 3% per Maret 2026, lebih lambat dari periode sebelumnya.
Mega menjelaskan bahwa sebagian masyarakat memanfaatkan dana tabungan untuk menjaga level konsumsi di tengah tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global. Meski demikian, Bank Mandiri mendeteksi adanya pemulihan aktivitas transaksi nasabah serta arus kas di beberapa sektor usaha.
Pihak Bank Mandiri tetap optimistis penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mampu tumbuh pada kisaran 8%-10% tahun ini. Target tersebut didukung oleh proyeksi stabilisasi inflasi, perbaikan aktivitas ekonomi domestik, dan penguatan konsumsi masyarakat.
Tren di Bank Spesialis Perumahan
Kondisi serupa dilaporkan oleh PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Direktur Network and Retail Funding BTN, Rully Setiawan, menyebutkan bahwa tren simpanan masyarakat kelas menengah bawah mulai bergerak positif meski belum pulih sepenuhnya.
Rully menyatakan bahwa fenomena menguras tabungan demi konsumsi masih terjadi pada sebagian kelompok nasabah, namun tekanannya kini mulai berkurang. Nasabah dinilai lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang dan secara perlahan kembali menabung.
BTN memproyeksikan pertumbuhan DPK tahun ini akan cenderung stabil atau tumbuh dalam rentang terbatas. Adapun tekanan terhadap tabungan masyarakat diperkirakan tetap membayangi jika terjadi gejolak harga kebutuhan pokok, walaupun ketahanan finansial rumah tangga mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan.