Singapura Geser Indonesia Sebagai Pasar Saham Terbesar di Asia Tenggara

Singapura Geser Indonesia Sebagai Pasar Saham Terbesar di Asia Tenggara

Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan berat secara berturut-turut. Berdasarkan data terbaru, status Indonesia sebagai pemilik pasar saham terbesar di Asia Tenggara kini telah hilang.

Dikutip dari Detik Finance, posisi puncak tersebut sekarang resmi digeser oleh Singapura. Sentimen negatif yang menerpa pasar domestik memicu perpindahan minat para investor global.

Data Bloomberg menunjukkan total nilai pasar perusahaan yang terdaftar di bursa saham Indonesia merosot hingga lebih dari 30% sejak mencapai titik tertingginya pada Januari lalu. Penurunan ini membuat nilainya menyusut menjadi US$ 618 miliar atau berkisar Rp 10.000 triliun.

Kondisi sebaliknya terjadi di Singapura yang mencatatkan kenaikan nilai pasar saham hingga mencapai US$ 645 miliar. Strait Times melaporkan bahwa pelemahan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia menjadi pemicu utama pergeseran ini.

Kekhawatiran investor juga diperparah oleh munculnya ketidakpastian mengenai potensi turunnya kelas pasar saham Indonesia menjadi frontier market. Selain itu, dua lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings dan Moody's, turut memberikan dampak negatif.

Kedua lembaga tersebut kompak menurunkan prospek rating kredit Indonesia menjadi negatif. Faktor ini semakin menekan pergerakan modal asing di dalam negeri.

Saat ini, performa bursa saham Indonesia tercatat sebagai salah satu yang terburuk di dunia. Tekanan tersebut semakin diperberat oleh nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga menyentuh rekor terlemahnya terhadap dolar AS.

Manajer portofolio Lion Global Investors, Soh Chih Kai, memberikan pandangannya terkait situasi pasar finansial saat ini. Menurutnya, momentum pertumbuhan memang sedang tidak berpihak kepada Indonesia.

"Kondisi saat ini memang belum berpihak pada Indonesia. Namun, dia menilai peluang kebangkitan Indonesia di masa depan tetap ada." kata Soh Chih Kai.

Soh Chih Kai menambahkan bahwa situasi pengetatan ini menjadi penegas posisi Singapura di mata dunia. Negara tetangga tersebut dinilai menawarkan keamanan dan kepastian yang lebih tinggi bagi para pemilik modal.

Aset di Singapura dianggap jauh lebih aman di tengah ketidakpastian kebijakan global yang sedang berlangsung. Pertumbuhan saham di Singapura ditopang oleh stabilitas ekonomi, situasi politik yang kondusif, serta reformasi pasar oleh pemerintah setempat.

Bahkan, indeks Straits Times berhasil memecahkan rekor tertinggi pada pekan ini. Lonjakan terjadi karena para investor aktif memburu aset aman (safe haven) demi menghindari gejolak geopolitik akibat perang Iran.

Apabila tren penguatan ini terus berjalan, performa saham Singapura diproyeksikan bakal mengungguli saham Indonesia sepanjang tahun 2026. Selisih keunggulan tersebut diperkirakan menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal kedua negara.

Artikel terkait

Rekomendasi