Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal bahwa perdamaian dengan Iran segera terwujud dan Selat Hormuz akan kembali dibuka, meskipun pasar merespons dengan skeptis akibat janji palsu selama tiga bulan terakhir, Senin (25/5/2026).
Sinyal pembukaan jalur maritim penting tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
"Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan dan masih menunggu finalisasi antara AS, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain," tulis Trump di Truth Social dikutip dari CNBC, Senin (25/5/2026).
Keputusan pemulihan jalur ini diprediksi memicu tantangan logistik yang besar bagi industri pelayaran internasional dalam beberapa bulan ke depan.
"Membersihkan hambatan di selat ini akan memakan waktu lama karena kapal tanker bergerak secepat Anda mengendarai sepeda," kata Grabenwöger, Analis minyak senior di Kpler dikutip dari CNN.
Kekhawatiran mengenai keamanan jalur maritim juga diperparah oleh ancaman pemasangan ranjau dan lonjakan harga asuransi maritim hingga ribuan persen selama situasi genting.
"Meskipun Iran telah setuju untuk mengizinkan jumlah kapal yang lewat kembali ke tingkat sebelum perang, tidak berarti terjadi seperti sebelum perang," kata kantor berita negara Iran, Fars.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent bertengger di atas US$ 100 per barel pada Jumat (22/5), sementara analis JPMorgan memprediksi rata-rata harga minyak sebesar US$ 97 per barel jika selat dibuka Juni 2026.
Proses pemulihan produksi juga menghadapi kendala teknis berat karena sumur minyak Timur Tengah yang ditutup selama perang memerlukan koordinasi rumit serta perbaikan infrastruktur kilang yang rusak.