Sistem Coretax milik Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan realisasi penerimaan pajak nasional yang tumbuh 22,1 persen secara tahunan hingga 31 Mei 2026. Data capaian tersebut dipaparkan langsung oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Juni pada Minggu (7/6/2026), dilansir dari Suara.
"Katanya di sini Coretax memberi kontribusi yang cukup signifikan," katanya saat memaparkan data penerimaan pajak di konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026, dikutip Minggu (7/6/2026).
Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa platform digital ini sempat diperkirakan tidak mampu berjalan optimal untuk mengawal penerimaan negara pada tahun ini. Meskipun sempat terjadi kendala teknis di awal tahun, performa sistem baru ini dinilai tetap menunjukkan hasil yang positif secara keseluruhan.
"Dulu kan Coretax dianggap atau diperkirakan enggak akan berjalan dengan baik tahun ini. Tapi memang awal tahun ada gangguan sedikit, tapi rupanya secara keseluruhan masih cukup bagus," imbuhnya.
Secara akumulatif, realisasi penerimaan pajak per 31 Mei 2026 terkumpul sebesar Rp834,4 triliun. Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari periode April 2025 yang mencatatkan angka sebesar Rp683,3 triliun.
Pertumbuhan ini didorong oleh sektor Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang merealisasikan Rp315,7 triliun atau melonjak 41,3 persen yoy dari April 2026 senilai Rp221,2 triliun. Selanjutnya, Pajak Penghasilan Badan mengumpulkan Rp167,6 triliun atau tumbuh 23,9 persen yoy dibanding capaian April 2026 sebesar Rp135,2 triliun.
Sektor PPh Orang Pribadi dan PPh 21 ikut menyumbang Rp123,1 triliun atau naik 26 persen yoy dari perolehan April 2026 sebesar Rp101,1 triliun. Komponen PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 bertambah menjadi Rp138,7 triliun atau naik 5,2 persen yoy dari posisi April 2026 senilai Rp109,1 triliun.
Sementara itu, penurunan performa hanya terjadi pada kategori Lainnya yang terkoreksi sebesar 6 persen secara tahunan. Komponen pajak ini tercatat berada di angka Rp89,3 triliun sekaligus menjadi satu-satunya sektor yang mengalami penyusutan dibandingkan empat komponen utama lainnya.